
KALTIMPOST.ID, SEPANG - Grand Prix Qatar dijadwalkan berlangsung di Sirkuit Lusail pada 6 hingga 8 November mendatang. Gelaran ini kini dibayangi ketidakpastian akibat situasi geopolitik di Timur Tengah yang memicu kekhawatiran terkait keamanan dan risiko penutupan wilayah udara.
Meski situasi tidak menentu, para pembalap tidak memiliki opsi untuk absen. Pembalap Red Bull KTM Tech3, Maverick Vinales, menegaskan adanya sanksi berat jika mereka mangkir dari agenda balapan.
"Sepertinya balapan akan tetap berjalan seperti Grand Prix biasa. Kami harus berangkat karena tidak punya pilihan lain. Jika tidak datang, tentu ada sanksi yang menanti," kata Vinales.
Baca Juga: Prabowo Disadap 3 Jenderal Polri! Ini 4 Teknologi Penyadapan Modern yang Mungkin Digunakan
Para pembalap terancam sanksi berupa denda hingga larangan tampil pada dua seri penutup di Portugal dan Valencia jika melewatkan sesi latihan Jumat. Sebanyak 19 dari 22 pembalap sebelumnya telah mengirim surat kepada MotoGP Group untuk meminta jaminan keamanan.
Pembalap Ducati, Francesco Bagnaia, mengakui negosiasi tersebut menghasilkan beberapa poin positif. Namun, ia menyadari tidak semua tuntutan mereka dapat dipenuhi oleh pihak penyelenggara.
"Jelas bahwa kami telah mendapatkan hampir semua yang kami minta. Ada beberapa hal yang sebenarnya kami harapkan, tetapi tidak akan pernah terwujud. Memang begitulah kenyataannya," ujar Bagnaia.
Baca Juga: Rubadi Maju Jadi Calon Ketua PSSI Kaltim, Dorong Penguatan Kompetisi dan Pembinaan Pemain Muda
Di sisi lain, tidak semua pembalap menyatakan keberatan. Marco Bezzecchi, Ai Ogura, dan Johann Zarco tercatat tidak ikut menandatangani surat keberatan tersebut.
Ai Ogura secara terbuka menyatakan tidak mempermasalahkan situasi tersebut. "Bagi saya, persoalannya sederhana. Saya seorang pembalap. Jika balapan digelar, tugas saya adalah membalap," tegas Ogura. (*)
Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!





