KALTIMPOST.ID, Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka menyampaikan hal yang tidak biasa soal potensi besar kemenyan yang ternyata menjadi bahan utama parfum mewah dunia seperti Louis Vuitton dan Gucci.
Namun, ironisnya, bahan baku tersebut masih sering dianggap mistis oleh masyarakat Indonesia sendiri.
Dalam pembekalan peserta P3N XXV dan P4N LXVIII di Istana Wakil Presiden, Jakarta (14/7/2025), Gibran menyebutkan, hilirisasi kemenyan harus segera dilakukan, sama seperti komoditas nikel dan batu bara.
“Ibu-ibu yang pakai parfum LV, Gucci, dan lain-lain itu dari kemenyan. Tapi dari dulu ya, sekali lagi, kita jualnya jual mentah terus,” ujar Gibran, dikutip dari Kompas.com, Selasa (15/7/2025).
Kemenyan, atau resin dari pohon Styrax benzoin, selama ini masih dianggap sebagai bagian dari dunia klenik atau perdukunan.
Tapi di luar negeri, kemenyan justru diposisikan sebagai bahan bernilai tinggi baik dalam industri parfum, kosmetik, hingga medis.
“Kemenyan itu bukan mistis. Kita saja yang terlalu menyempitkan fungsinya,” kata peneliti BRIN, Mohammad Fathi Royyani, dalam diskusi yang dikutip dari Kompas.id.
Kemenyan Toba (Styrax sumatrana) disebut sebagai jenis terbaik dan termahal. Ia hanya tumbuh di kawasan tertentu di Sumatera, termasuk Humbang Hasundutan, wilayah yang baru saja dikunjungi Gibran.
Baca Juga: Kenapa Kepala BNN Melarang Tangkap Artis Pengguna Narkoba? Ini Jawaban Tak Terduganya
Potensi Besar, Tapi Masih Dijual Mentah
Indonesia menyuplai sekitar 80 persen kebutuhan kemenyan dunia, namun sebagian besar diekspor dalam bentuk mentah.
Menurut Luhut Binsar Pandjaitan, nilai ekspor kemenyan Indonesia pada 2024 mencapai 52,1 juta dolar AS, sementara pasar global kemenyan menyentuh 23 miliar dolar AS.
“Nilainya naik, tapi belum mencerminkan kekuatan kita. Kita bisa olah sendiri untuk produk bernilai tinggi,” ujar Luhut dalam International Conference on Infrastructure (ICI) 2025, Kamis (12/6/2025).
Padahal kemenyan digunakan untuk membuat berbagai produk seperti parfum, lilin aromaterapi, makanan, bahkan perekat luka dalam dunia medis.
Di Rusia dan India, kemenyan juga digunakan untuk dupa dan ritual keagamaan.
Kini, saatnya Indonesia menghapus stigma mistis pada kemenyan dan mulai menempatkannya sebagai komoditas industri unggulan.
Upaya hilirisasi ini bisa membawa nilai tambah yang sangat besar, termasuk membuka lapangan kerja, memperkuat posisi UMKM lokal, dan memperkuat posisi ekspor non-migas Indonesia.
“Kemenyan itu seperti nikel. Sama pentingnya. Tapi kalau kita masih lihatnya sebagai barang perdukunan, ya kita akan tertinggal terus,” ucap Gibran. ***
Editor : Dwi Puspitarini