KALTIMPOST.ID, Presiden Prabowo Subianto memberikan gelar pahlawan nasional kepada 10 tokoh berpengaruh pada tahun 2025.
Salah satu nama yang menarik perhatian adalah Syaikhona Muhammad Kholil, sosok legendaris asal Madura yang selama ini dikenal sebagai guru para ulama besar Indonesia, termasuk pendiri Nahdlatul Ulama (NU) KH Hasyim Asy’ari.
Melalui Keputusan Presiden (Keppres) Nomor 116/TK/Tahun 2025, Mbah Kholil secara resmi diakui jasanya di bidang perjuangan pendidikan Islam.
Ia bergabung dengan nama-nama besar lain seperti Gus Dur, Soeharto, dan Marsinah yang juga mendapat gelar tahun ini.
Baca Juga: Profil Rama Duwaji: Ilustrator Suriah-Amerika di Balik Sosok Wali Kota Muslim Pertama New York
Sang Guru Para Pendiri Bangsa
Julukan "Syaikhona" (yang berarti 'Guru Kami') bukan sekadar panggilan. Itu adalah bukti pengakuan atas kedalaman ilmunya.
Mbah Kholil adalah guru langsung dari dua tokoh sentral pendiri NU, yaitu KH Hasyim Asy'ari (Pendiri NU dan kakek Gus Dur) dan KH Abdul Wahhab Chasbullah (Salah satu pendiri NU).
Bukan hanya mereka. Diperkirakan sekitar 3.000 muridnya kelak menjadi pemimpin umat, kiai, dan alim ulama yang tersebar di seluruh penjuru Jawa, Sumatera, dan Madura.
Pesantrennya di Bangkalan menjadi 'kawah candradimuka' bagi para pejuang dan ulama masa depan.
Inilah mengapa perannya dalam bidang pendidikan Islam dianggap fundamental bagi Indonesia. Ia tidak hanya mengajar, tetapi membentuk karakter dan visi para pendiri bangsa.
Baca Juga: Profil Zohran Mamdani: Anak Sutradara Bollywood yang Kini Jadi Wali Kota Muslim Pertama New York
Jejak Hidup "Syaikhona"
Syaikhona Muhammad Kholil lahir di Bangkalan, Madura – sebuah wilayah yang kemudian menjadi saksi perpaduan tradisi keilmuan Islam dan pendidikan pesantren.
Menurut sejumlah sumber, ia lahir pada hari Selasa, 11 Jumadil Akhir 1235 H atau 27 Januari 1820 M.
Ia berasal dari keluarga ulama. Ayahnya, KH Abdul Latif, memiliki silsilah yang terhubung kepada Sunan Gunung Jati.
Dari masa kecil, Kholil sudah menunjukkan hasrat besar untuk menuntut ilmu termasuk menghafal kitab-nazham seperti Alfiyah Ibnu Malik.
Baca Juga: Profil Karlinah Djaja Atmadja: Guru, Aktivis, Istri Wapres Ke-4 RI yang Wafat di Usia 95
Menuntut Ilmu dan Hidup Mandiri
Kholil muda tidak hanya berguru di pesantren lokal, namun juga menempuh pendidikan ke berbagai tempat, misalnya di Pesantren Langitan (Tuban), Cangaan (Bangil), Keboncandi & Sidogiri (Pasuruan).
Dalam kondisi yang menantang, dia bahkan bekerja sebagai buruh batik hingga pemetik kelapa demi bisa mandiri dan mewujudkan keinginannya belajar ke Makkah.
Kemudian ia berangkat ke Makkah sekitar tahun 1859 M dan belajar kepada ulama besar seperti Syekh Nawawi al Bantani, Sayyid Ahmad bin Zaini Dahlan, dan lainnya.
Baca Juga: Profil Gus Irfan, Cucu Pendiri NU yang Jadi Menteri Haji Pertama di Reshuffle Kabinet Prabowo
Setelah kembali ke tanah air, Kholil mendirikan pesantren di Bangkalan dan menjadi guru bagi banyak santri yang kemudian menjadi ulama besar di Nusantara.
Salah satu muridnya yang paling dikenal ialah KH Hasyim Asy’ari, pendiri organisasi Nahdlatul Ulama.
Peran Kholil dalam dunia pesantren bersifat strategis: ia membantu mengembangkan kurikulum, menyebarkan ilmu-nahwu, fiqh, tasawuf, dan meninggalkan jejak keilmuan yang kuat. ***
Editor : Dwi Puspitarini