KALTIMPOST.ID, BALIKPAPAN – Olahraga biliar mulai mendapat perhatian lebih di Kalimantan Timur. Upaya mengenalkan olahraga ini ke masyarakat semakin gencar dilakukan, terutama untuk mencari bibit-bibit atlet muda berbakat.
Namun, perjalanan mengenalkan biliar tidak selalu mulus. Masih ada pandangan negatif yang melekat di masyarakat, sehingga promosi dan pembinaan atlet menghadapi sejumlah tantangan.
Baca Juga: Hasil Imbang Biasa Saja, Tapi Surat Bonek-lah yang Membuat Persebaya Harus Berbenah Cepat
Menurut Ketua POBSI Kaltim, Raymond Nirwan, salah satu kendala utama adalah stigma yang mengaitkan rumah biliar dengan Tempat Hiburan Malam (THM). Hal ini membuat pembinaan atlet muda terbatas.
“Makanya untuk kejuaraan tingkat junior pun kami tidak bisa melaksanakan usia 18 tahun ke bawah, mesti 24 tahun maksimal. Karena memang cukup sulit,” kata Raymond.
POBSI Kaltim pun berusaha mengubah persepsi tersebut. Salah satunya dengan menggelar turnamen di ruang publik, seperti pusat perbelanjaan, agar masyarakat bisa melihat langsung biliar sebagai olahraga prestasi.
“Peserta turnamen juga kami wajibkan menggunakan pakaian sopan sesuai standar pertandingan. Begitu juga dengan panitia,” tambahnya.
Raymond menegaskan, langkah ini bertujuan menghapus kesan negatif yang selama ini melekat pada rumah biliar. Ia berharap upaya ini selaras dengan regulasi pemerintah daerah di masa depan.
“Kami berharap, nantinya pemerintah bisa mengubah regulasinya, agar rumah biliar yang dulu jadi THM bisa dikategorikan sebagai sarana olahraga,” tutup dia. (*)
Editor : Ery Supriyadi