
Oleh: Herdiansyah Hamzah
Dosen Fakultas Hukum Unmul, anggota KIKA dan SPK
ORANG-orang di sekeliling istana, ramai-ramai membantah teror yang dialamatkan kepada ketua BEM UGM dan keluarganya. Namun dibantah 1000 kali-pun, jika rezim tetap permisif, maka rasanya sulit untuk tidak mengaitkan rezim dengan rangkaian teror ini.
Alih-alih mengutuk sekaligus mengejar si pelaku teror, rezim justru sibuk membantah dan mengklarifikasi keteidakterlibatannya dalam teror ini. Jika rezim sadar dan memahami betul tentang mandatory konstitusi yang menjamin kebebasan berkekspresi setiap warga negara, maka kerja pertama yang harus dilakukan adalah memberikan jaminan perlindungan dan keamanan bagi para korban teror.
Bukan justru sibuk “cuci tangan” dengan berusaha membersihkan nama dari rangkaian teror tersebut. Situasi ini seolah menggambarkan watak rezim yang “permisif” alias membiarkan teror-teror tersebut berlangsung, bahkan di depan mata kepala-nya sendiri.
Maka berlaku rumus, “jika rezim ini membiarkan si pelaku melancarkan teror secara bebas kepada mereka yang kritis terhadap keputusan-keputusan politik kekuasaan yang menindas rakyat banyak, maka apa bedanya rezim ini dengan si pelaku teror?”
Barisan setia istana ramai-ramai membantah. Mulai dari Menteri Hak Asasi Manusia (HAM), Natalius Pigai. Ia menegaskan jika pemerintah tidak terlibat dalam teror yang dialami oleh ketua BEM Universitas Gadjah Mada (UGM) beserta ibunya. “Oleh karena itulah saya pastikan bahwa teror tidak mungkin dari pemerintah” kata Pigai saat ditemui para jurnalis di Gedung Kementerian HAM.
“Kita juga tidak tahu siapa yang mengirimkan. Kita juga tidak tahu pelakunya”, ujar Pigai. Bantahan serupa juga disampaikan oleh Menteri Sekretaris Negara, Prasetyo Hadi. Menurutnya, istana tidak mengetahui siapa yang meneror, termasuk identitas para pelaku.
Namun anehnya, alih-alih memberikan respon keamanan para korban teror, termasuk upaya untuk segera mengejar dan menangkap para pelaku, Prasetyo justru menyalahkan cara mengkritik ketua BEM UGM yang tidak mengikuti adab ketimuran dan etika yang perlu dikedepankan saat menyuarakan sesuatu.
Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!




