
Oleh:
Elinda Rizkasari
Dosen Prodi PGSD Universitas Slamet Riyadi Surakarta
SUARA bentakan kerap lebih keras daripada azan Subuh. Seorang anak yang masih mengantuk diseret bangun untuk sahur. Di meja makan, ia menahan kantuk dan air mata sekaligus. Siangnya, ketika tak kuat menahan lapar dan akhirnya membatalkan puasa, kemarahan orang tua meledak. Di banyak rumah, disiplin masih identik dengan hukuman: nada tinggi, ancaman, bahkan cubitan. Ramadan yang semestinya menjadi sekolah kesabaran justru berubah menjadi arena pelampiasan emosi.
Fenomena ini bukan sekadar kesan sesaat. Data Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) dalam berbagai laporan tahunannya menunjukkan kekerasan dalam pengasuhan masih menjadi salah satu aduan terbanyak. UNICEF juga berulang kali menegaskan bahwa kekerasan verbal membentak, mempermalukan, mengancam memiliki dampak psikologis jangka panjang pada anak.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyebut kekerasan terhadap anak sebagai masalah kesehatan publik global yang memengaruhi perkembangan emosi, kognisi, dan relasi sosial mereka di masa depan. Kekerasan tidak selalu berbentuk pukulan; kata-kata yang merendahkan pun meninggalkan luka.
Ironisnya, praktik itu kerap dibungkus dengan dalih “demi disiplin”. Banyak orang tua meyakini bahwa tanpa tekanan, anak akan manja, malas, dan tak bertanggung jawab. Ramadan kemudian dipandang sebagai momentum “melatih keras” agar anak kuat berpuasa. Ketika anak mengeluh lapar atau lelah, respons yang muncul sering kali bukan empati, melainkan kemarahan: “Masa begini saja tidak kuat?” Disiplin direduksi menjadi ketaatan tanpa dialog.
Padahal, jika kita jujur merenungi makna puasa, Ramadan justru mengajarkan hal sebaliknya. Puasa adalah latihan pengendalian diri self-regulation yang tumbuh dari kesadaran, bukan paksaan. Orang dewasa menahan lapar bukan karena diawasi, melainkan karena memilih untuk taat. Nilai utama yang diasah adalah sabar, empati, dan kemampuan mengelola dorongan. Jika demikian, mengapa dalam mendidik anak kita justru kehilangan kendali atas emosi sendiri?
Saya teringat kisah seorang ibu muda di sebuah kota besar. Ia bercerita bahwa setiap Ramadan rumahnya selalu tegang. Anak sulungnya yang berusia delapan tahun kerap menangis saat sahur dan beberapa kali menyerah sebelum magrib. Sang ibu merasa gagal. “Saya malu kalau anak saya tidak puasa penuh,” katanya. Suatu hari, setelah membentak anaknya karena diam-diam minum, ia melihat anak itu bersembunyi di kamar dengan wajah ketakutan. Ia tersadar: yang sedang ia bangun bukan disiplin, melainkan rasa takut.
Perubahan terjadi ketika ia memilih pendekatan berbeda. Ia mulai menjelaskan makna puasa dengan bahasa sederhana, memberi target bertahap setengah hari, lalu tiga perempat hari dan memberikan apresiasi atas usaha, bukan hanya hasil. Ketika anaknya mengeluh lapar, ia tidak lagi memarahi, tetapi mengajak berbincang tentang perasaan. Ramadan berikutnya, suasana rumahnya jauh lebih tenang. Anak itu belum selalu puasa penuh, tetapi ia belajar bertanggung jawab atas pilihannya.
Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!




