
Oleh:
Nurul Puspita Palupi
Dosen Fakultas Pertanian Universitas Mulawarman
SAMARINDA sedang berbenah. Jalan-jalan diperhatikan, pusat kota dipercantik, dan aktivitas ekonomi bergerak semakin cepat. Sebelum kembali kritis, patut kiranya kita mengapresiasi upaya Pemerintah Kota Samarinda yang telah bekerja keras membangun wajah kota. Namun, di tengah laju pembangunan tersebut, ada satu pertanyaan mendasar yang perlu kita ajukan bersama: apakah Samarinda juga semakin nyaman untuk ditinggali?
Sebagai kota yang berada di wilayah khatulistiwa, Samarinda menghadapi kondisi iklim yang panas dan lembap sepanjang tahun. Namun, kondisi ini seharusnya tidak menjadi alasan untuk menerima ketidaknyamanan sebagai hal yang wajar. Justru sebaliknya, inilah alasan paling kuat untuk merancang kota dengan pendekatan yang lebih ramah iklim. Salah satu kunci utamanya adalah menghadirkan vegetasi yang rindang dan terencana.
Berbagai kota di dunia dengan karakter iklim serupa telah membuktikan bahwa kehadiran pohon dalam jumlah besar mampu mengubah wajah kota secara signifikan. Kanopi pepohonan yang menaungi jalan tidak hanya memberikan keteduhan, tetapi juga mampu menurunkan suhu lingkungan secara nyata. Perbedaan beberapa derajat saja sudah cukup mengubah pengalaman berjalan kaki dari yang melelahkan menjadi menyenangkan.
Bayangkan Samarinda dengan koridor jalan utama yang dipenuhi pohon peneduh. Trotoar tidak lagi sekadar jalur sempit yang terabaikan, melainkan ruang publik yang hidup tempat orang berjalan santai, berbincang, bahkan menikmati kota tanpa rasa terik yang menyengat. Ini bukan sekadar angan-angan, melainkan hasil dari keputusan yang tepat dan konsisten.
Di sinilah peran kepemimpinan menjadi sangat penting. Wali Kota Samarinda memiliki peluang besar untuk meninggalkan warisan yang tidak hanya terlihat dalam bentuk beton dan aspal, tetapi juga dalam kualitas hidup warganya. Program penanaman pohon tidak boleh lagi bersifat sporadis atau sekadar simbolis. Ia harus menjadi gerakan kota yang terencana, terukur, dan berkelanjutan.
Langkah konkret dapat dimulai dari hal-hal mendasar. Setiap proyek pembangunan jalan seharusnya mewajibkan penanaman pohon peneduh sebagai bagian integral, bukan sekadar pelengkap. Pembangunan gedung perlu menyertakan minimal 30 persen ruang terbuka hijau yang berfungsi sebagai area resapan air sekaligus ruang ekologis. Trotoar harus didesain dengan ruang yang cukup untuk pertumbuhan akar pohon, sehingga tidak merusak infrastruktur di kemudian hari.
Pemilihan jenis tanaman juga perlu diperhatikan secara serius. Pohon yang ditanam harus memiliki daya rindang yang baik, tahan terhadap kondisi lingkungan, mudah dirawat, serta tidak mengganggu aktivitas masyarakat. Estetika tetap penting, tetapi fungsi ekologis harus menjadi prioritas utama.
Lebih jauh, pemerintah kota perlu menetapkan target yang jelas dan terukur. Misalnya, berapa kilometer jalan yang akan ditanami pohon setiap tahun, atau berapa persen peningkatan tutupan hijau kota dalam lima hingga sepuluh tahun ke depan. Target ini penting sebagai tolok ukur keberhasilan sekaligus bentuk komitmen yang dapat diawasi oleh publik.
Namun, gerakan ini tidak bisa berjalan sendiri. Partisipasi masyarakat harus menjadi bagian dari strategi. Warga dapat dilibatkan melalui program adopsi pohon, komunitas berperan dalam perawatan ruang terbuka hijau, dan dunia usaha didorong berkontribusi melalui program tanggung jawab sosial. Ketika pohon menjadi bagian dari identitas kota, rasa memiliki akan tumbuh secara alami.
Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!




