
Oleh: Muhammad Aufal Fresky, Esais asal Madura
KALTIMPOST.ID, Terus terang saja saya masih sedikit pesimis bercampur waswas, jangan-jangan generasi pemuda hari ini belumlah berkemas-kemas untuk menyongsong Indonesia Emas 2045. Belum sepenuhnya siap untuk mewujudkan peradaban yang gilang-gemilang. Entah itu karena ketidapedulian, ketidaktahuan, dan atau faktor-faktor lainnya.
Padahal, telah kita mafhumi bersama bahwa setiap proses menuju peradaban emas, peran kaum muda tidak bisa disingkirkan. Apalagi, biasanya, seperti yang kita ketahui, pemuda adalah golongan yang memiliki kekuatan fisik, idealisme yang menyala-nyala, dan ide-ide cemerlang. Belum lagi, spirit optimisme yang dimilikinya membara, yang siap menghantam segala yang menghalang.
Sebab itulah, tidak heran jika tongkat estafet kepemimpinan di masa depan ada di pundak kaum muda. Hanya saja, persoalan dan tantangan pemuda sekarang kian kompleks. Mulai dari budaya pragmatisme yang kian mengakar dan menjalar ke segala sektor, hingga nasionalisme dan patriotisme yang kian menyusut. Lantas, pertanyaannya adalah apa yang bisa diharapkan apabila generasi penerus bangsa ini kehilangan jati diri dan identitas? Apa yang bisa diharapkan jika generasi muda hari ini justru apatis dengan problematika di sekelilingnya?
Begitulah kenyataan yang sukar ditampik bahwa pemuda bisa jadi harapan dan sekaligus sumber persoalan. Kuantitas pemuda sebagai tenaga produktif dikhawatirkan tidak seiring dengan kualitas yang menyertainya. Bonus demografi, bukan saja tidak bisa kita nikmati manfaatnya, namun bisa saja berubah menjadi petaka demografi yang sewaktu-waktu meledak.
Tidak sedikit pemuda kita yang terjerembap sebagai pengguna dan pengedar narkoba. Tidak sedikit pemuda kita yang terbiasa mengonsumsi minuman keras, menjadi pemain judi online (judol), menjadi aktor utama tawuran di jalanan, hingga terjerumus dalam kubangan pornografi. Padahal, semua itu bukan hanya merusak fisik dan mentalitasnya. Lebih dari itu juga bisa menghancurkan masa depan pemuda itu sendiri.
Lantas, timbullah sebuah pertanyaan lanjutan. Yakni di manakah peran pemerintah? Di manakah peran tokoh masyarakat? Di manakah peran lembaga pendidikan? Jangan-jangan kita menganggap amoralitas pemuda sebagai suatu kewajaran yang bisa ditolerir. Padahal, tindakan-tindakan tersebut destruktif yang juga mencelakakan diri pemuda itu sendiri.
Jangan-jangan kita selama ini pura-pura buta dengan realitas yang menyesakkan dada itu. Menganggap bahwa cepat atau lambat pemuda yang terjerumus itu akan sadar dengan sendirinya, lalu taubat, dan tidak mengulanginya lagi. Sekali lagi, saya kira, salah kaprah anggapan semacam itu. Kita semua, terutama, orang tua dan para guru dan dosen, berkewajiban untuk terus-menerus membina akhlak para pemuda kita.
Bukan sebatas menjejali dengan segudang ilmu. Bukan sebatas mentransfer pengetahuan ke dalam pikiran mereka. Jika demikian, yang berkembang hanya intelektualitasnya saja. Selebihnya akan merosot tajam.
Padahal, intelektualitas, spiritualitas, dan moralitas harusnya berjalan beriringan agar kaum muda sebagai calon pemimpin masa depan yang tidak hanya pintar dari sisi kognitif, tapi juga memiliki spirit nasionalisme dan patriotisme yang bergemuruh dalam jiwanya. Demikian juga dengan semangat perjuangan dan pengabdian, yang memang semestinya dipunyai oleh pemuda hari ini. Semua itu, tentu saja sebagai bekal untuk mewujudkan suatu peradaban emas di kemudian hari. Jika tidak, visi besar itu ibarat mimpi di siang bolong alias khayalan belaka.
Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!




