
Oleh: Muhammad Aufal Fresky, Esais asal Madura
KALTIMPOST.ID, Percayakah Anda bahwa buku memiliki “daya magis” yang mampu merangsang dan menggerakkan pikiran seseorang? Mampu melepaskan kita dari kebodohan dan keterbelakangan lewat pelita ilmu dan pengetahuan di dalamnya.
Syarat utamanya adalah dengan membuka lembar demi lembar sembari merenungi makna yang tersurat dan tersirat di dalamnya. Tanpa begitu, mereguk nilai kebemanfaatan di dalamnya adalah kemustahilan.
Lagi pula, bagaimana mungkin sesuatu yang berharga bisa didapatkan tanpa adanya proses atau perjuangan. Mendapatkan ikan saja kita harus berkorban waktu, tenaga, pikiran, dan bahkan biaya. Apalagi, yang kita buru adalah ilmu, warisan utama para nabi.
Kembali lagi terkait membaca, sekali lagi, membaca menjadi kunci pembuka gudang ilmu. Dengan membaca pula, kita bisa berkelana ke berbagai penjuru dunia tanpa harus keluar dari kamar. Buku menjadi semacam konektor untuk menjelajahi ide-ide cemerlang para tokoh nasional dan dunia, di masa lalu maupun masa kini.
Hanya saja, sayang seribu sayang, sebagian dari kita masih belum mengetahui dan memahami betul betapa besar faedah yang bisa diperoleh dari aktivitas membaca buku.
Baca Juga: Dekorasi Birokrasi
Dampaknya adalah motivasi akan lemah untuk sekadar membaca satu halaman per hari. Nihilnya kemauan untuk membaca otomatis menjadi pekerjaan rumah bagi bangsa dan negara ini. Rendahnya tingkat literasi kita, khususnya dalam membaca buku, juga dipicu oleh bermacam-macam faktor.
Salah satu di antaranya, proses pembudayaan membaca di lingkup keluarga, sekolah/kampus, hingga masyarakat belum berjalan seperti yang diharapkan. Dalam hal ini, peran pemerintah, saya kira, masih belum cukup efektif untuk mendongkrak minat masyarakat, khususnya kaum muda, untuk menggemari buku.
Belum lagi media sosial (medsos) dan game online yang seolah menjadi ruang rekreasi bagi sebagian anak-anak muda kita. Scrolling hingga berjam-jam tanpa arah dan tujuan. Siang dan malam dilalui hanya untuk memuaskan dahaga akan kenikmatan semu itu. Penggunaan medsos secara berlebihan memang menimbulkan efek candu atau ketergantungan.
Begitu pula dengan game online. Bahkan, efek candunya lebih parah. Kesenangan sesaat itulah yang dicari. Bayangkan saja, apabila waktu berselancar di medsos itu dipangkas, kemudian digantikan dengan membaca buku, berapa banyak ilmu dan pengetahuan yang kita dapatkan?
Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!




