
Oleh:
Yusuf Khoirulloh
Mahasiswa FKIP, Program Studi Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan, Universitas Mulawarman
GELISAH. Ada keanehan yang mengganggu di ruang digital kita akhir-akhir ini. Layar ponsel yang seharusnya menjadi jendela informasi, justru kerap menampilkan wajah-wajah kita yang paling buruk. Komentar-komentar kasar meluncur tanpa malu, ujaran kebencian menjadi tontonan sehari-hari, dan budaya saling serang seolah sudah menjadi hal biasa.
Ironisnya, Indonesia adalah negeri dengan penduduk mayoritas beragama. Namun perilaku banyak warganet kerap tak mencerminkan nilai-nilai luhur yang diajarkan. Media sosial yang semestinya menjadi ruang ekspresi dan kreasi, perlahan berubah menjadi arena adu argumen kotor, perundungan, hingga penyebaran hoaks.
Sungguh memalukan ketika bangsa yang berasaskan Pancasila ini justru bergelimang perilaku digital yang tak beradab.
Data menunjukkan keprihatinan ini bukan isapan jempol belaka. Microsoft melalui Digital Civility Index mencatat bahwa netizen Indonesia masuk dalam peringkat paling tidak sopan se-Asia Tenggara. Ini bukan prestasi yang membanggakan untuk negara yang mengajarkan pendidikan kewarganegaraan dari bangku SD hingga perguruan tinggi.

Lebih mencengangkan lagi, Indonesia menjadi pengguna TikTok terbesar di dunia dengan angka mencapai 185 juta pengguna. Setiap hari, jutaan pasang mata menyaksikan konten-konten yang tidak semuanya berkualitas.
Fenomena doom scrolling, yaitu menggulir layar tanpa henti, telah mencuri waktu, fokus, dan bahkan merusak rentang perhatian masyarakat. Yang lebih mengkhawatirkan, banyak anak SMP yang belum lancar membaca, namun mampu bertahan berjam-jam di media sosial.
Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!




