Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Validitas Menulis Cerpen Siswa Menggunakan AI

R
Penulis: Redaksi KP❯
Tidarthi Timang Langi.
Tidarthi Timang Langi.

Advertisement

Oleh:

Tidarthi T. L

Guru SDIT SMP Islam Istiqomah, Balikpapan Kota

Advertisement

MEMASUKI awal tahun 2026, teknologi tidak lagi sekadar tentang "apa yang baru", melainkan tentang bagaimana inovasi menyatu untuk mengubah cara kita hidup secara fundamental. Pengaruh AI (artificial intelligence) terhadap keterampilan menulis manusia bak pedang bermata dua. Di satu sisi, ia adalah asisten super cerdas namun di sisi lain, ia bisa menjadi "kruk" yang membuat otot kreativitas kita melemah jika tidak digunakan dengan bijak. Seorang siswa mengumpulkan cerpen yang sangat sempurna secara bahasa, namun ternyata itu hasil bantuan AI.

Sementara siswa lain berjuang keras dari nol namun hasilnya sederhana. Meskipun AI dapat dijadikan alat bantu untuk belajar tapi validitas sebuah karya tulis akan sulit diukur. Di satu sisi, AI dapat berfungsi sebagai alat yang ampuh untuk meningkatkan pembelajaran, memberikan umpan balik yang dipersonalisasi dan mengotomatiskan tugas-tugas rutin. Di sisi lain, ada risiko bahwa siswa mungkin menjadi terlalu bergantung pada AI, yang menyebabkan penurunan kemampuan berpikir kritis dan pemecahan masalah.

Ada risiko siswa menjadi malas berpikir kritis. Jika AI selalu membuatkan kesimpulan, kemampuan siswa untuk menghubungkan titik-titik logika (sintesis) secara mandiri bisa melemah. Isu plagiarisme AI menjadi sangat kompleks. Untuk itu, sekolah sebaiknya lebih menekankan pada tugas menulis di kelas (luring) atau ujian lisan untuk memastikan orisinalitas pemikiran siswa.  Selain itu evaluasi pembelajaran cerpen dapat menggunakan Rubrik Analitik dengan pembagian bobot gagasan dan kreativitas 40 persen yang berfokus pada keunikan ide dan kekuatan konflik yang digambarkan dalam cerita pendek.

Advertisement

Selanjutnya unsur intrinsik 30 persen dengan fokus evaluasi kepada konsistensi tokoh dan kelogisan alur, diksi dan gaya bahasa juga sebaiknya berfokus kepada pemilihan kata yang menarik dengan bobot 20 persen dari karya cerpen yang dibuat. Dan yang terakhir adalah penerapan PUEBI dengan bobot 10 persen dari karya siswa. Mulyasa menyatakan bahwa evaluasi pembelajaran bukan sekadar pemberian nilai, melainkan pemahaman mendalam tentang perkembangan siswa untuk meningkatkan kualitas proses pembelajaran (Kurikulum Berbasis Kompetensi, 2007).

Ketika ingin meningkatkan kualitas proses pembelajaran maka diperlukan suatu bentuk evaluasi yang benar-benar bisa mengukur validitas, reliabilitas, keadilan, dan bermakna bagi siswa. Maka jika siswa tidak bijak dalam menggunakan teknologi AI, secara tidak langsung akan meruntuhkan kebermaknaan suatu proses pembelajaran.

Jika kita juga menilik dari sudut pandang keadilan atas hasil pembelajaran, maka penggunaan AI yang tidak bertanggungjawab oleh siswa akan menimbulkan rasa ketidakadilan atas proses pembelajaran bagi siswa yang benar-benar menuliskan karyanya dengan jujur dan melalui proses berpikir yang panjang. Oleh karena itu, diperlukan juga sosialisasi penggunaan AI dari guru ke siswa sangat penting dilakukan karena teknologi ini telah menjadi bagian tak terpisahkan dari dunia pendidikan dan kehidupan sehari-hari.

Peran guru dalam hal ini bertransformasi menjadi fasilitator digital yang membimbing siswa menggunakan AI secara bijak, etis, dan produktif. Siswa perlu memahami batasan penggunaan AI, seperti menghindari plagiarisme, mengenali potensi bias, dan melindungi privasi data.

Advertisement
Sudahkah Anda mengikuti channel whatsapp kami?
WhatsApp
Kaltim PostIkuti

Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!


Artikel Terkait

AI dalam Kurikulum Merdeka: Membantu Guru atau Justru Membuat Guru Bergantung?

AI dalam Kurikulum Merdeka: Membantu Guru atau Justru Membuat Guru Bergantung?

AI membawa peluang besar bagi pendidikan, tetapi guru tetap memegang peran penting agar teknologi tidak menggantikan sentuhan manusia.

Mengembalikan Marwah Pedagogi di Tengah Derasnya Arus Digitalisasi

Mengembalikan Marwah Pedagogi di Tengah Derasnya Arus Digitalisasi

Potret pendidikan Indonesia masih memiliki wajah ganda.

Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Sarjana Kita

Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Sarjana Kita

Persaingan kerja di era AI makin ketat. Gelar akademik harus didukung kemampuan, adaptasi, dan penguasaan teknologi digital.

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer