Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Pendidikan Berbasis Imajinasi

M
Muhammad Aufal Fresky. (IST)
Muhammad Aufal Fresky. (IST)

Advertisement

Oleh: Muhammad Aufal Fresky, Esais asal Madura

KALTIMPOST.ID, Hingga saat ini saya masih meyakini betul bahwa maju dan mundurnya sebuah bangsa dan negara bergantung pada kualitas sumber daya manusia (SDM) di dalamnya. Mutu manusia Indonesia ini pastinya dipengaruhi juga oleh tata kelola dan manajemen pendidikan nasional. 

Sebab, lewat pendidikan, pola pikir, sikap, sifat, dan kepribadian seseorang bisa terbentuk. Lalu, persoalan yang menyeruak yaitu sejauh mana dunia pendidikan kita saat ini mampu mencetak insan-insan yang visioner, berkarakter, nasionalis, serta penuh empati dan simpati terhadap nasib wong cilik?

Advertisement

Sejauh mana pendidikan nasional kita mampu mewujudkan insan akademis, pencipta, dan pengabdi yang membawa kemaslahatan bagi agama, nusa, dan bangsa? Terus terang saja, kita mendambakan lulusan sekolah/kampus yang mampu menjadi problem solver. Bukan sebaliknya, menjadi biang keladi atas segala persoalan yang terjadi.

Wajar saja jika kita cukup curiga bahwa jangan-jangan pendidikan nasional kita keluar dari relnya. Sedikit waswas, jangan-jangan selama ini pendidikan kita lebih mengutamakan kemampuan kognitif, tetapi lalai membangun watak anak didik sehingga setelah lulus kehilangan jati diri, mengalami krisis identitas, bahkan krisis karakter.

Advertisement

Bagaimanapun juga, aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik harus tetap ada dalam proses pembelajaran. Ruang kelas tidak boleh menjadi penjara yang membelenggu kreativitas dan inovasi peserta didik.

Oleh karena itu, guru selaku ujung tombak pendidikan diharapkan mampu memainkan perannya sebagai motivator dan pembimbing yang mengasah serta mengembangkan potensi anak didiknya yang beraneka ragam. Guru juga diharapkan mampu merangsang anak-anak didiknya untuk berimajinasi. Dalam konteks ini, saya kira pendidikan berbasis imajinasi perlu kembali menjadi perhatian serius kita semua, terutama para pemangku kebijakan.

Imajinasi, jika merujuk pada Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), adalah daya pikir untuk membayangkan (dalam angan-angan) atau menciptakan gambar (lukisan, karangan, dan sebagainya) tentang kejadian berdasarkan kenyataan atau pengalaman seseorang. Sederhananya, hemat saya, imajinasi merupakan kemampuan seseorang untuk memvisualisasikan sesuatu dalam alam pikirannya. Bisa berupa gagasan tentang ide-ide yang abstrak seperti keadilan, hak asasi manusia, kesejahteraan, dan semacamnya.

Atau bisa berbentuk benda-benda seperti museum, menara masjid, langit, api, air, dan semacamnya. Imajinasi sendiri tidak terbatas ruang dan waktu. Artinya, seseorang yang sedang berimajinasi mampu menjelajahi masa lalu, masa kini, dan masa depan melalui pikirannya. Bahkan, ia bisa membayangkan sesuatu yang belum pernah ada di dunia nyata. Pikirannya "liar", berandai-andai, dan out of the box pada kadang-kadang.

Lalu, apa korelasi imajinasi dengan pendidikan kita hari ini? Baiklah, pelan-pelan akan saya coba memaparkannya. Pertama-tama, kita sepakati dulu bahwa imajinasi memiliki tingkatan atau derajat yang lebih tinggi daripada pengetahuan. Seperti yang pernah dikatakan Albert Einstein, fisikawan terkemuka dunia, imajinasi lebih penting daripada pengetahuan.

Advertisement
Sudahkah Anda mengikuti channel whatsapp kami?
WhatsApp
Kaltim PostIkuti

Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!


Artikel Terkait

Mengintip Proses Kreatif Sastrawan

Mengintip Proses Kreatif Sastrawan

Proses panjang dan pergulatan batin melahirkan karya sastra abadi. Adakah rahasia maestro mencipta tulisan yang menggugah jiwa.

Antisipasi Pemadaman Listrik, Sekolah di Kaltim Diminta Siapkan Genset untuk TKA   

Antisipasi Pemadaman Listrik, Sekolah di Kaltim Diminta Siapkan Genset untuk TKA  

Pelaksanaan Tes Kemampuan Akademik (TKA) 2026 di Kalimantan Timur menghadapi sejumlah potensi kendala teknis.

TKA 2026, Kaltim Bidik Lima Besar Nasional dengan 35.455 Peserta Gelombang Pertama   

TKA 2026, Kaltim Bidik Lima Besar Nasional dengan 35.455 Peserta Gelombang Pertama  

Provinsi Kaltim membidik posisi lima besar nasional dalam capaian Tes Kemampuan Akademik (TKA) 2026.

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer