
Oleh: Muhammad Aufal Fresky, Pelaku UMKM Batik Tulis Madura
KALTIMPOST.ID, Peran usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) sebagai tulang punggung perekonomian Indonesia begitu vital. Berdasarkan siaran pers Kementerian Koordinator Perekonomian RI yang dilansir di laman ekon.go.id, kontribusi UMKM mencapai lebih dari 60 persen terhadap produk domestik bruto (PDB) nasional serta menyerap hampir 97 persen tenaga kerja. Sampai saat ini, jumlah UMKM mencapai lebih dari 64 juta unit usaha.
Tentu saja peran tersebut tidak dapat dianggap sepele. Keberadaan UMKM betul-betul menopang, bahkan menggerakkan roda ekonomi kerakyatan. Namun, selama ini, sejauh pengamatan saya, UMKM seolah stagnan atau bahkan mengalami kemunduran. Sebab, kondisi ekonomi nasional dan global, tidak dipungkiri lagi, memengaruhi keputusan UMKM untuk bertahan atau gulung tikar.
Menjaga ketahanan UMKM sama halnya dengan menjaga ketahanan sekaligus stabilitas ekonomi nasional. Kita ketahui bersama, beragam stimulus telah dilakukan oleh pemerintah, baik pusat maupun daerah, untuk tetap menghidupkan UMKM. Mulai dari memberikan bantuan modal hingga pelatihan pemasaran digital telah dikerjakan.
Semua itu dalam rangka meningkatkan kapabilitas internal UMKM agar memiliki daya saing yang tinggi. Beragam upaya dari pemerintah melalui kementerian/lembaga terkait memang bertujuan untuk menstimulus UMKM agar maju dan berkembang. Persoalannya, yang terjadi di tengah-tengah kita, UMKM cenderung dianaktirikan alias kurang diperhatikan sehingga seolah hidup segan, mati pun tak mau. Terombang-ambing tanpa kejelasan nasib, apalagi masa depan.
Mengapa saya begitu percaya diri mengatakan demikian? Jawabannya adalah sejauh ini saya merasakan sendiri bahwa belum ada skema, strategi, aturan, agenda, ataupun program dari pemerintah yang sifatnya berkelanjutan, efektif, dan efisien. Seperti halnya memberikan pendampingan dan pembinaan yang sistematis, terarah, dan berkesinambungan hingga UMKM tersebut benar-benar mandiri.
Sebab, transfer informasi dan pengetahuan dibutuhkan untuk mendongkrak kualitas UMKM kita. Sepemahaman saya selaku penulis sekaligus pelaku UMKM, banyak UMKM yang dari sisi SDM masih perlu pengembangan lebih lanjut. Termasuk saya pribadi yang masih perlu banyak belajar mengenai dunia kewirausahaan.
Lebih lanjut lagi, mari kita sepakati bahwa mengembangkan UMKM merupakan ikhtiar mengembangkan ekonomi kerakyatan. Sebab, dengan begitu, efek dominonya akan menjalar ke mana-mana. Seperti semakin banyak tenaga kerja yang terserap, mengurangi angka pengangguran, dan menurunkan angka kemiskinan. Sebagian angkatan kerja tidak lagi hanya duduk diam karena akan terserap. Pun demikian dengan ibu-ibu dan pemuda di desa, mereka akan aktif bekerja apabila sektor UMKM ini benar-benar menggeliat pesat.
Kemudian, masalah yang acap kali dihadapi UMKM saat ini sebenarnya tidak hanya perihal keterbatasan modal. Selain itu, UMKM juga menghadapi sejumlah persoalan lain. Jika dipetakan, terdapat masalah internal berupa mutu SDM yang masih rendah, rendahnya produktivitas, pengetahuan dan pemahaman terkait literasi digital dan keuangan yang masih belum mumpuni, lemahnya kemampuan manajemen dan tata kelola perusahaan, minimnya kemampuan pemasaran, serta rendahnya kemampuan beradaptasi terhadap perubahan dan berinovasi.
Selain itu, tantangan eksternal UMKM ialah sulitnya mengakses pembiayaan, persaingan dengan produk impor yang kadang lebih murah dan berkualitas, ketimpangan akses pasar, serta perubahan perilaku konsumen dan tren pasar yang berubah-ubah. Selanjutnya, terdapat pula masalah struktural, seperti ketimpangan infrastruktur digital dan logistik.
Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!




