Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Menyoal Matinya Oposisi

R
Penulis: Redaksi KP❯
Ilustrasi
Ilustrasi

Advertisement

Oleh:

Ahmad Baiduri
Mahasiswa Magister Departemen Politik dan Pemerintahan UGM asal Kabupaten Paser

DEMOKRASI Indonesia sedang menghadapi ujian serius. Salah satu gejalanya adalah semakin lemahnya peran oposisi dalam sistem politik. Padahal, dalam negara demokrasi, oposisi merupakan elemen penting untuk menjalankan fungsi check and balance terhadap pemerintah. Tanpa kekuatan yang mengawasi dan mengoreksi kebijakan, ruang demokrasi berpotensi menyempit dan membuka peluang penyalahgunaan kekuasaan.

Advertisement

Komposisi parlemen saat ini menunjukkan ketimpangan yang mencolok antara koalisi pemerintah dan pihak di luar pemerintahan. Kondisi tersebut membuat fungsi pengawasan terhadap kebijakan pemerintah semakin lemah. Tidak sedikit kebijakan strategis disahkan dengan minim perdebatan publik, sehingga memunculkan kekhawatiran akan terjadinya kemunduran kualitas demokrasi.

Mengapa Oposisi Melemah?

Fenomena melemahnya oposisi sebenarnya bukan hal baru. Dan Slater (2018) menjelaskan bahwa sejak era Reformasi berkembang praktik promiscuous power-sharing, yakni pembagian kekuasaan secara transaksional kepada lawan politik setelah pemilu. Politik berbagi kekuasaan ini membuat hampir semua partai akhirnya bergabung dalam pemerintahan.

Advertisement

Slater juga menilai para pemenang pemilu di Indonesia lebih memilih pendekatan reciprocity, yaitu membuka pintu koalisi bagi lawan politik, dibandingkan model victory yang hanya melibatkan partai pendukung. Akibatnya, kompetisi politik kehilangan makna substantif karena pemilu lebih menjadi ajang menentukan posisi tawar dalam pembagian kekuasaan.

Ahmad Baiduri
Ahmad Baiduri

Faktor lain ialah semakin memudarnya ideologi partai. Politik yang semakin pragmatis mendorong partai lebih mengutamakan akses terhadap kekuasaan daripada konsistensi sikap politik. Oposisi akhirnya bukan lagi pilihan ideologis, melainkan sekadar akibat gagalnya negosiasi masuk ke pemerintahan.

Di sisi lain, menjadi oposisi juga dianggap tidak memberikan insentif politik yang menarik. Partai yang berada di luar pemerintahan kehilangan akses terhadap jabatan, sumber daya politik, maupun peluang memengaruhi kebijakan. Kondisi tersebut membuat banyak partai memilih bergabung ke dalam koalisi meski harus mengorbankan fungsi kontrol terhadap pemerintah.

Demokrasi Tanpa Penyeimbang

Advertisement
Sudahkah Anda mengikuti channel whatsapp kami?
WhatsApp
Kaltim PostIkuti

Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!


Artikel Terkait

Petaka Inkompetensi Pemimpin

Petaka Inkompetensi Pemimpin

Meritokrasi dinilai kian tergerus. Kompetensi dan moralitas kalah oleh loyalitas dalam penentuan jabatan publik.

Pemkab PPU Kolaborasi dengan UGM Uji Coba Padi "Amfibi" Gamagora di Desa Sidorejo

Pemkab PPU Kolaborasi dengan UGM Uji Coba Padi "Amfibi" Gamagora di Desa Sidorejo

Pemkab PPU bersama Universitas Gadjah Mada (UGM) dan Kagama resmi memulai uji coba penanaman padi varietas unggul Gamagora 7.

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer