
Promotor: Prof. Dr. H. Susilo, M.Pd.
Co-Promotor: Prof. Dr. Hasbi Sjamsir, M.Hum.
KALTIMPOST.ID, Pendidikan karakter bukan sekadar nilai dalam kurikulum atau slogan sekolah, melainkan harus mewarnai cara berpikir, pengambilan keputusan, dan perilaku peserta didik.
Pendidikan karakter tidak boleh dianggap hanya sebagai materi tambahan, melainkan harus terintegrasi dalam seluruh aspek pengalaman pendidikan. Mulai kesantunan guru, disiplin aturan, penyelesaian konflik, hingga pelibatan keluarga, semuanya berkontribusi pada pembentukan karakter.
Keteladanan orang dewasa dan budaya sekolah juga harus selaras dengan pesan yang diberikan di kelas.
Penelitian di Elementary Narada School, Jakarta Barat, yang menggabungkan kurikulum nasional dan Cambridge dengan nilai Buddhisme, menegaskan pentingnya pendidikan karakter.
Studi ini melibatkan berbagai pihak seperti pimpinan, guru, konselor, siswa, orang tua, dan yayasan, serta observasi aktivitas sehari-hari.
Temuan utama menunjukkan karakter berkembang melalui keterpaduan visi, pembelajaran, pembiasaan, keteladanan, pendampingan, dan evaluasi berkelanjutan.
Nilai-nilai dihadirkan setiap mata pelajaran, rutinitas kelas, program character building, meditasi, kegiatan berdana, melepas satwa (abhayadāna), komunikasi sehari-hari, dan penyelesaian konflik.
Sekolah juga mengintegrasikan pengetahuan (bahusacca), keterampilan (sippa), dan moralitas (sīla) sehingga kecakapan akademik berjalan seiring dengan pengelolaan diri, penghargaan terhadap perbedaan, dan perilaku etis.
Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!




