Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Jihad Jalur Jurnalisme

M
Muhammad Aufal Fresky. (IST)
Muhammad Aufal Fresky. (IST)

Advertisement

Oleh: Muhammad Aufal Fresky, Esais dan Penulis Buku “Empat Titik Lima Dimensi”

KALTIMPOST.ID, Setidaknya, hingga saat ini saya memercayai betul bahwasanya sebuah tulisan memiliki kekuatan. Setiap kata yang kita tuliskan dan sebarkan, entah lewat media arus utama, media sosial (medsos), atau berbagai saluran lainnya, mempunyai “daya ledak” yang bisa membangkitkan spirit nasionalisme dan patriotisme bagi pembacanya. Bukan sekadar menambah ilmu, pengetahuan, dan wawasan, tapi juga memperluas cakrawala berpikir, termasuk mengurai kusutnya sebuah persoalan.

Termasuk juga dalam memberikan jalan keluar terkait persoalan yang barangkali menimpa kita. Semisal, lewat esai-esai atau beragam opini yang diterbitkan media massa. Peran esais, kolumnis, dan cerpenis bisa mengambil peran untuk menjadi “Kompas” dan “Pelita” dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Penulis secara tidak langsung bisa mengambil bagian dalam melakukan sebuah “Jihad” untuk melawan segala jenis ketidakadilan, kesewenang-wenangan, manipulasi, dan beragam kezaliman yang dilakukan secara terang-terangan ataupun sembunyi-sembunyi oleh oknum penguasa atau wakil rakyat, misalnya.

Advertisement

Tidak hanya itu, baik penulis esai maupun penulis opini memiliki peran yang cukup vital dalam membangun peradaban sebuah bangsa dan negara. Kehadiran mereka tidak hanya untuk meramaikan perdebatan, diskursus, dan perang pemikiran di tengah masyarakat lewat media massa. Lebih dari itu, menjadi pengontrol segala aturan, regulasi, dan kebijakan yang telah, sedang, dan akan ditetapkan oleh penguasa atau wakil rakyat. Sama halnya seperti jurnalis yang bertugas dan bertanggung jawab sebagai pilar demokrasi di negeri ini, penulis opini dan esai juga bisa memberikan kontribusi ide, gagasan, dan pemikirannya tentang bagaimana membangun demokrasi di Indonesia. Baik wartawan maupun penulis esai sebenarnya, hemat saya, sedang melakukan “Jihad Lewat Pena” atau bisa juga diistilahkan “Jihad Jalur Jurnalisme”.

Lebih lanjut, jika kita merujuk pada Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), jihad bisa dimaknai sebagai segala daya upaya untuk mencapai kebaikan. Atau bisa didefinisikan sebagai usaha sungguh-sungguh mengorbankan harta, benda, jiwa, dan raga untuk mewujudkan kemaslahatan bersama. Sementara jurnalisme, masih menurut KBBI, yaitu pekerjaan mengumpulkan, menulis, mengedit, dan menerbitkan berita dalam surat kabar dan sebagainya. Intinya, segala aktivitas yang menyangkut dunia kewartawanan. Termasuk dalam catatan ini adalah menulis dan memublikasikan berita, opini, dan esai dalam surat kabar.

Berdasarkan hal tersebut, jihad jurnalisme bisa kita artikan sebagai sebuah konsep atau gerakan yang tidak hanya memandang aktivitas jurnalistik sebagai profesi atau pekerjaan komersial, melainkan sebagai bentuk perjuangan ideologis, moral, dan dakwah dalam rangka mewujudkan nilai-nilai kebenaran dan keadilan di tengah publik. Penulis dan wartawan, sekali lagi, seperti yang telah disinggung sebelumnya, membawa misi mulia, yaitu bagaimana agar masyarakat lebih cerdas dan tercerahkan. Setidaknya, bisa melihat segala kejadian atau persoalan dari beragam sudut pandang sehingga tidak mudah menyalahkan orang lain serta tidak gampang diadu domba atau diprovokasi oleh oknum-oknum tertentu.

Advertisement

Baca Juga: Menolak Katastrofe Penegakan Hukum

Pena, buku, laptop, dan surat kabar adalah “peralatan tempur” bagi para insan jurnalis ataupun intelektual publik untuk menyebarluaskan tulisan-tulisan mereka yang inspiratif dan konstruktif. Tulisan yang tidak hanya mampu menambah khazanah pengetahuan pembacanya, tapi juga mampu membangun cara berpikir dan bahkan karakter pembacanya. Dalam hal ini, peran utama penulis dalam membangun karakter bangsa itu tidak bisa dianggap remeh. Apalagi, kita ketahui bersama bahwa selain beragam persoalan ekonomi, urusan pembangunan karakter ini tidak hanya bisa diserahkan total kepada guru atau dosen di sekolah dan kampus. Rasanya, kita penting untuk kembali melirik dan memperhatikan betul kontribusi intelektual organik dan para jurnalis kita dalam membangun mentalitas dan kepribadian bangsa lewat tulisan. Terkait pekerjaan semacam itu, agaknya kita perlu mengokohkan optimisme dalam diri, terutama wartawan dan penulis, agar tidak ragu dan takut terhadap segala jenis ancaman dan intimidasi selama tulisan kita itu benar serta demi kepentingan bangsa dan negara.

Lagi pula, ditinjau secara konstitusional, setiap dari kita juga berhak untuk menyampaikan pendapat, gagasan, dan pemikiran lewat lisan dan tulisan. Seperti halnya yang tercantum dalam Pasal 28F UUD 1945 yang intinya memberikan hak kepada setiap orang untuk berkomunikasi serta mencari, memperoleh, memiliki, menyimpan, mengolah, dan menyampaikan informasi dengan segala jenis saluran yang tersedia. Jadi, hak menyampaikan informasi tidak hanya dimiliki wartawan.

Kemudian, dalam konteks jihad jurnalisme, baik penulis maupun jurnalis, penting kiranya untuk kembali memperhatikan betul 10 prinsip jurnalisme yang ditulis Bill Kovach dan Tom Rosenstiel dengan judul The Elements of Journalism. Tentu agar berita dan opini yang dihasilkan tidak disusupi kepentingan parpol, bisnis, ataupun pihak-pihak yang hendak menunggangi kita lewat konten yang kita buat. Ringkasnya, agar tulisan kita selalu condong pada kepentingan publik serta berbasiskan fakta dan data yang akurat, tentunya.

Dalam catatan ini, saya hanya akan mencantumkan tiga saja, di antaranya: (a) kewajiban pertama jurnalisme adalah pada kebenaran, artinya jurnalis harus berusaha menyampaikan fakta secara akurat, bukan sekadar menyampaikan klaim; (b) loyalitas pertama jurnalisme adalah kepada warga atau publik, artinya kepentingan masyarakat harus ditempatkan di atas kepentingan pemilik media, pengiklan, pemerintah, maupun kelompok tertentu; (c) esensi jurnalisme adalah disiplin verifikasi, artinya informasi harus diperiksa, dibandingkan, dikonfirmasi, dan diuji sebelum dipublikasikan. Untuk tujuh prinsip lainnya, silakan dipelajari sendiri mengingat keterbatasan ruang dalam tulisan ini.

Advertisement
Sudahkah Anda mengikuti channel whatsapp kami?
WhatsApp
Kaltim PostIkuti

Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!


Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer