Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Negeri Pemimpi, Gagap Berpikir

R
Delly Akbar Lahay
Delly Akbar Lahay

Advertisement

Oleh: 

Delly Akbar Lahay

Penulis, Aktivis, dan Praktisi Pendidikan Samarinda

Advertisement

DAHULU, Pancasila disebut sakti, pemuda dianggap harapan bangsa, pendidikan dipercaya sebagai jalan kemajuan, dan hutan dipandang sebagai warisan kehidupan. Kini, semuanya seperti mengikuti perlombaan menuju panggung komedi nasional. Bedanya, penonton tidak selalu tertawa. Sebagian menangis, sebagian mengelus dada, sementara sebagian lainnya sibuk membuat konten agar kesedihan tetap bisa dimonetisasi.

Selamat datang di negeri yang kaya sumber daya alam, sumber daya manusia, sekaligus sumber daya alasan. Negeri yang tidak pernah kekurangan slogan, tetapi kerap gagap ketika harus menerjemahkan nilai dan gagasan menjadi tindakan.

Pancasila: Sakti atau Sakit?

Advertisement

Pancasila masih terpampang gagah di ruang kelas, kantor pemerintahan, dan gedung-gedung resmi. Burung Garuda menatap lurus ke depan, seolah mengawasi bangsa yang terkadang justru memilih melihat ke arah lain ketika keadilan membutuhkan perhatian.

Sila pertama mengajarkan ketuhanan. Namun, ada saja orang yang rajin berbicara tentang moral tanpa sempat memeriksa perilakunya sendiri. Sila kedua menjunjung kemanusiaan, tetapi kepentingan sesama sering kali kalah oleh kepentingan kelompok. Sila kelima menjanjikan keadilan sosial, meski keadilan terkadang terasa seperti barang premium yang hanya bisa dinikmati pemilik kartu keanggotaan khusus.

Pancasila seolah kehilangan daya tangkap di tangan orang-orang yang mengaku mengamalkannya. Kita terlalu sering memperlakukannya sebagai hiasan dinding: dibersihkan ketika ada upacara, dibacakan ketika ada peringatan, lalu dilupakan saat kepentingan pribadi mengetuk pintu.

Padahal, ideologi tidak cukup hanya dihafalkan. Pancasila harus hidup dalam keputusan, pelayanan publik, kejujuran, dan keberanian mengoreksi kesalahan. Jika nilai luhur hanya ramai dalam pidato, jangan heran apabila praktik kehidupan terdengar seperti lawakan tanpa penulis yang bertanggung jawab.

Advertisement
Sudahkah Anda mengikuti channel whatsapp kami?
WhatsApp
Kaltim PostIkuti

Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!


Artikel Terkait

Peringati Sumpah Pemuda, Dialog Senator Kaltim Buka Ruang Aspirasi Generasi Muda

Peringati Sumpah Pemuda, Dialog Senator Kaltim Buka Ruang Aspirasi Generasi Muda

Dialog Sumpah Pemuda Kaltim buka ruang aspirasi anak muda bahas lingkungan hingga pendidikan bersama Senator DPD RI Aji Mirni Mawarni.

Hadir di Samarinda! T Intouch with Toyota Remote, Konektivitas Pintar Pertama Kijang Innova Zenix

Hadir di Samarinda! T Intouch with Toyota Remote, Konektivitas Pintar Pertama Kijang Innova Zenix

Toyota hadirkan fitur konektivitas T Intouch with Toyota Remote di Kijang Innova Zenix untuk warga Samarinda. Simak kecanggihannya.

Rangkul Anak Muda lewat Lasaloka-KSB, Muhammad Sarip Lawan Narasi Sejarah Palsu

Rangkul Anak Muda lewat Lasaloka-KSB, Muhammad Sarip Lawan Narasi Sejarah Palsu

Muhammad Sarip dan Lasaloka-KSB ajak anak muda lestarikan sejarah lokal Samarinda dan lawan narasi sejarah palsu dengan metode yang relevan.

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer