Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Asap, Antre, Air Mati: Pemuda Kaltim Bisa Apa?

R
Alan Smith PurbaOleh: Alan Smith Purba, SE., M.Ak., CSRS

Akademisi dan Praktisi Sustainability Accounting Universitas Mulawarman

TANGGAL 28 Oktober 1928, pemuda dari berbagai daerah berikrar tentang satu tanah air, satu bangsa, dan bahasa persatuan. W.R. Supratman memperdengarkan “Indonesia Raya” melalui alunan biola. Mereka belum punya negara, tetapi berani bergerak.

Advertisement

Sembilan puluh delapan tahun kemudian, menjelang peringatan Sumpah Pemuda, persoalan yang dihadapi pemuda Kalimantan Timur hadir begitu dekat: asap kebakaran, antrean BBM, dan air yang tidak selalu mengalir. Peringatan ini patut menjadi kesempatan untuk bertanya: apa arti persatuan ketika tetangga kita kesulitan memperoleh kebutuhan dasar? Jawabannya perlu terlihat melalui kepedulian kepada warga sekaligus keberanian mengawal tanggung jawab pemerintah.

BPBD Kaltim, merilis informasi pada 24 Oktober 2026, mencatat 2.342 kejadian kebakaran hutan dan lahan dengan luas terdampak 9.327,23 hektare hingga 22 Oktober. Informasi tersebut juga melaporkan pada 20 Oktober bahwa kasus ISPA di Kaltim menembus 43 ribu selama berlangsungnya karhutla. Angka-angka itu memperlihatkan besarnya persoalan yang menyertai peringatan tahun ini.

Kesulitan warga juga tampak pada layanan air bersih. Pemerintah Kota Balikpapan menjelaskan bahwa pengambilan air baku dari Waduk Manggar dan Waduk Tritip dikurangi sejak 1 September 2026, disertai penyesuaian distribusi. Sementara itu, antrean kendaraan di SPBU mendorong Pertamina dan pemerintah daerah mengevaluasi kecukupan penyalur. Kaltim membutuhkan penjelasan dan perbaikan yang menyentuh penyebab masalah, mulai dari ketersediaan pasokan hingga distribusinya.

Advertisement

Tekanan tersebut berlangsung ketika ruang belanja daerah ikut menyempit. Keterangan resmi Pemprov Kaltim mengenai kesepakatan perubahan APBD 2026 menyebut alokasi belanja turun dari Rp15,15 triliun menjadi Rp14,33 triliun. Penyesuaian anggaran itu membuat penentuan prioritas semakin penting. Layanan dasar dan penanganan kebutuhan mendesak warga harus tetap memperoleh perhatian utama.

Persoalan-persoalan ini tidak selalu memiliki penyebab yang sama. Namun, bebannya dapat bertemu pada keluarga yang sama. Pengemudi ojek yang menghabiskan waktu mengantre BBM memiliki lebih sedikit waktu untuk mencari penghasilan. Jika keluarganya juga harus membeli air atau menanggung biaya berobat, ruang belanja rumah tangga semakin terdesak. Karena itu, penanganannya perlu melihat kehidupan warga secara utuh.

Kekayaan sumber daya Kaltim membuat keadaan ini terasa ironis. Kemajuan daerah semestinya dapat dirasakan melalui udara yang layak dihirup, air yang tersedia, dan layanan publik yang dapat diandalkan. Ukuran itulah yang perlu terus dibawa pemuda ke ruang perbincangan publik.

Advertisement

Lalu, pemuda bisa apa? Sumpah Pemuda dapat menjadi pijakan untuk bertindak. Semangatnya perlu diterjemahkan sesuai kebutuhan zaman, dengan tetap memahami batas peran masyarakat dan kewajiban negara.

Pertama, bertanah air satu berarti ikut menjaga ruang hidup bersama. Organisasi pemuda dan mahasiswa dapat bekerja sama dengan BPBD untuk memperkuat pencegahan dan pelaporan kebakaran. Relawan perlu mengikuti pelatihan dan arahan petugas, keterlibatan di lapangan harus disesuaikan dengan kemampuan serta perlengkapan yang tersedia.

Kepedulian juga perlu berlanjut setelah asap mereda, melalui pengawasan terhadap kerusakan lingkungan dan dorongan agar perlindungan sumber air menjadi agenda yang sungguh-sungguh dijalankan. Kedua, berbangsa satu berarti tidak membiarkan warga menghadapi kesulitan sendirian. Pemuda dapat membantu RT dan penyedia layanan mendata rumah tangga yang membutuhkan bantuan air, terutama warga lanjut usia, penyandang disabilitas, dan keluarga yang kesulitan menjangkau titik distribusi.

Data sederhana tentang lokasi, kebutuhan, dan bantuan yang telah diterima akan membuat kerja sukarela lebih terarah. Persatuan memperoleh maknanya ketika bantuan sampai kepada orang yang membutuhkan.

Advertisement
Sudahkah Anda mengikuti channel whatsapp kami?
WhatsApp
Kaltim PostIkuti

Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!


Artikel Terkait

Kabut Asap Bayangi Porprov Kaltim 2026 di Paser, BPBD Imbau Ribuan Atlet Waspadai Kualitas Udara

Kabut Asap Bayangi Porprov Kaltim 2026 di Paser, BPBD Imbau Ribuan Atlet Waspadai Kualitas Udara

Porprov Kaltim 2026 di Paser dibayangi kabut asap karhutla. BPBD Kaltim ingatkan kualitas udara PM2.5 fluktuatif bagi 8.709 atle

Pemerintah Pusat Salurkan Rp20 Miliar untuk Dana Penanganan Karhutla di Kaltim

Pemerintah Pusat Salurkan Rp20 Miliar untuk Dana Penanganan Karhutla di Kaltim

BPBD Kaltim salurkan dana Rp20 miliar untuk operasional dan insentif relawan guna mempercepat penanganan kebakaran hutan dan lahan di Kaltim

Yang Mahal Setelah Lampu Padam

Yang Mahal Setelah Lampu Padam

Refleksi mendalam menakar ongkos sosial warga Kaltim menghadapi pemadaman listrik, krisis air, karhutla, hingga modifikasi cuaca.

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer