
Oleh: Eddy Martono
Ketua Umum GAPKI
Menyalahkan industri kelapa sawit atas kebakaran hutan di Indonesia yang memicu kabut asap lintas batas di Asia Tenggara merupakan narasi yang terlalu disederhanakan. Faktanya, bukti kuat dan realitas di lapangan menceritakan kisah yang jauh lebih kompleks.
Kebakaran hutan dan lahan gambut di Sumatra, Kalimantan, dan Papua telah memicu krisis kabut asap lintas batas yang parah di kawasan Asia Tenggara, berdampak langsung pada negara tetangga seperti Singapura, Malaysia, dan Filipina. Dampaknya sangat luas dan merata: kualitas udara yang memburuk, lonjakan kasus infeksi saluran pernapasan, penutupan sekolah, gangguan penerbangan, penurunan sektor pariwisata, hingga kerugian sosial-ekonomi yang masif.
Sangat wajar jika publik mempertanyakan pihak yang bertanggung jawab dan menuntut penyelidikan mendalam atas akar permasalahannya. Namun, menjadi keliru besar jika masalah ini direduksi hanya dengan menunjuk satu pihak sebagai kambing hitam utama, yakni industri kelapa sawit. Meskipun narasi tersebut kerap disebarkan di media sosial, kenyataannya jauh lebih kompleks dari itu.
Berbagai sektor turut aktif melakukan pembukaan dan pengelolaan lahan di seluruh wilayah Indonesia. Selain budidaya kelapa sawit, sektor-sektor tersebut meliputi kehutanan industri, tanaman perkebunan lain, pertanian rakyat, sektor pertambangan, hingga berbagai proyek pembangunan infrastruktur.
Meskipun citra satelit sering mendeteksi titik panas (hotspot) dan bekas kebakaran di dalam kawasan konsesi kelapa sawit, korelasi tidak boleh serta-merta disamakan dengan kausalitas (sebab-akibat). Keberadaan api di dalam batas konsesi saja tidak serta-merta membuktikan bahwa pemegang konsesilah yang sengaja memicunya.
Berbagai variabel operasional dan lingkungan harus dipertimbangkan secara objektif. Sering kali, kebakaran bermula di luar batas konsesi lalu menjalar ke dalam, atau berasal dari lahan yang dikuasai masyarakat di dalam area konsesi di mana perusahaan tidak memiliki kendali langsung. Dalam skenario semacam ini, operator kelapa sawit justru bertindak sebagai korban, bukan pelaku.
Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!




