KALTIMPOST.ID, Hidup yang tidak pernah dipertaruhkan tidak akan pernah dimenangkan. Begitulah kata Sutan Sjahrir, salah satu pahlawan nasional kita. Sebuah pernyataan yang barangkali menghentak alam kesadaran kita.
Bahwa memang, idealisme itu perlu terus-menerus diperjuangkan. Bukan sebatas didiskusikan, diwacanakan, dikaji, dan diperdebatkan di ruang-ruang kelas atau warung kopi misalnya. Terutama kawula muda sebagai pilar utama pembangunan nasional. Rasa-rasanya memang perlu memegang erat-erat idealismenya.
Tak boleh dipertukarkan dengan segala hal yang sifatnya nisbi atau temporer. Baik itu kekuasaan, jabatan, harta, dan sejenisnya. Bukankah lebih baik dikucilkan dalam lingkaran pergaulan yang sama sekali membuat karakter kian keropos. Lebih-lebih senior, teman sejawat, atau siapapun juga yang senantiasa mengajak memakai topeng kepalsuan.
Pemuda hari ini, sekali lagi, memang dihadapkan pada suatu kondisi di mana kompleksitas tantangan semakin jelas. Wajar saja jika sebagian pemuda kita hari ini merasa gelisah, tak tahu arah, dan kehilangan jati diri sebab terombang-ambing lingkungan. Bisa jadi keadaan seperti itu disebabkan tidak adanya nilai-nilai luhur yang dipegang oleh kita.
Menanggalkan kejujuran hanya demi ambisi pribadi. Membiarkan diri terbawa arus hanya karena rasa tidak nyaman terhadap sahabat, keluarga, dan atasan di tempat kerja. Karakternya menjadi semakin keropos ketika arah dan tujuan hidupnya tidak segera ditemukan. Boleh dikatakan, asal-asalan dalam menjalani hidup. Atau hidup bak aliran sungai yang tidak tahu ke mana hilirnya.
Padahal, pemuda adalah nakhoda bagi dirinya sendiri. Padahal pemuda adalah calon pemimpin masa depan dan sekaligus aset berharga yang dimiliki oleh bangsa ini. Bagaimana mungkin sebagian dari kita ini bisa lepas dari masyarakat padahal kita lahir, tumbuh, dan berkembang di tengah-tengah masyarakat.
Padahal masyarakat pun mendambakan peran dan sepak terjang kita. Terutama bagi pemuda yang kebetulan sedang berkesempatan mengenyam pendidikan tinggi, entah itu di tingkat sarjana hingga doktoral. Modal intelektual yang dimiliki, hemat saya, menjadi peluang dan sekaligus tanggung jawab besar untuk mendayagunakan untuk mengangkat harkat dan martabat bangsa. Untuk mewujudkan kehidupan masyarakat yang adil dan makmur.
Hanya saja, yang menjadi persoalan sekarang adalah sebagian dari pemuda kita mengambil jalan pintas untuk mengejar karir atau memperoleh kedudukan di tengah masyarakat. Entah itu sebagai politisi, pengusaha, ASN, dan semacamnya.
Sebagian enggan untuk berproses berdarah-darah untuk mencapai cita-citanya. Ilmu, kemampuan, dan pengalaman yang didapatkan di bangku sekolah/kuliah pun menjadi tidak begitu berdampak positif ketika sebagian dari kita memilih untuk berkompromi dengan kemunafikan yang dibalut dengan retorika verbal.
Pemuda dan rakyat tidak bisa dipisahkan. Pemuda berasal dari rakyat, dan memang sudah seharusnya kembali pada rakyat. Tidak peduli latar belakang pendidikannya, tidak peduli dari mana asal usulnya, tidak peduli status sosialnya, pemuda memang sudah saatnya bergegas untuk membenahi atau mengentaskan segala persoalan di tengah masyarakat.
Mulai dari persoalan ekonomi, sosial, budaya, pendidikan, politik, dan semacamnya. Lewat apapun yang bisa dilakukan. Tidak harus dengan hal-hal besar. Bahkan melalui hal-hal sederhana yang dilakukan dengan penuh kesungguhan dan konsistensi, perubahan itu lambat laun akan terasa.
Apalagi, jika seluruh pemuda di negeri ini kompak dan solid, imbasnya akan terasa. Sebab, persatuan kaum muda akan menjadi kekuatan dahsyat. Pikiran-pikiran progresif, ide-ide cemerlang, dan berbagai inovasinya diharapkan mampu mengakselerasi pembangunan nasional di segala sisinya.
Pertanyaannya adalah ketika kita sedang terjepit dari segala sisi, seperti halnya tertekan dari segi ekonomi, apakah idealisme itu tetap membara? Adakah kita akan menjualnya dengan harga murah dengan berkongkalikong dengan para bandit negara? Mengemis-ngemis kekuasaan dan jabatan, menjadi penjilat pada atasan, dan semacamnya. Halal dan haram dilabrak, norma hukum dan sosial dihiraukan.
Akankah menjadi seperti itu? Itu semua kembali pada kita. Sebab, tidak sedikit anak muda yang dulunya aktivis idealis, orator ulung, penulis andal, dan organisatoris papan atas, tapi ketika dihadapkan pada uang dan jabatan, akhirnya luluh juga. Semua berubah menjadi pragmatis. Idealismenya diletakkan di keranjang sampah. Dipungut kembali ketika sedang dibutuhkan. Idealisme yang hanya berhenti ucapan.
Saya pun jadi sedikit waswas apabila kuantitas pemuda tanah air yang teramat banyak ini hanya sekadar menjadi buih, maka kita semua gampang disetir dan dikendalikan oleh elite-elite tertentu, oleh kepentingan oligarki, oleh senior-senior yang menghamba pada tahta dan harta.
Jika demikian adanya, pupuslah segala harapan masyarakat. Percuma masyarakat menaruh harapan besar jika kita sendiri memilih untuk mentolerir segala bentuk penyelewengan dan ketidakadilan.
Kecerdasan tanpa diiringi dengan integritas hanya akan menyisakan penghianatan nyata. Nurani rakyat dilukai oleh orang-orang yang dulunya diharapkan menjadi pembelanya. Apakah kita mau berlaku demikian? Tentu saja tidak.
Bagaimanapun juga, mengutip pernyataan Tan Malaka, bahwa idealisme adalah kemewahan terakhir yang dimiliki pemuda. Artinya, tanpa idealisme, keberadaan dan ketidakberadaan pemuda menjadi sama saja.
Sebab, ada tidak adanya diri kita sama sekali tidak berpengaruh dalam kehidupan masyarakat. Atau jangan-jangan sebagian dari kita justru menjadi biang keladi segala persoalan yang menjerat. Bisa jadi kepergian kita menjadi lebih baik bagi masyarakat. Apakah kita mau seperti itu? Silakan pikir sendiri.
Yang jelas, hidup ini teramat singkat dan sangat berharga jika hanya dihabiskan untuk memburu pengakuan, pengaruh, dan segala pernak-pernik duniawi yang tidak akan pernah dibawa mati.
Maka dari itu, selagi masih ada waktu, mumpung lagi sehat dan ada kesempatan, mari kita kembali memantapkan diri untuk tetap mempertahankan dan memperjuangkan idealisme kita dalam segala kondisi, kapan pun dan di mana pun.
Bukankah ciri pemuda adalah berani mengambil risiko? Bukankah pemuda harapan bangsa itu adalah mereka yang berani keluar dari zona nyaman, menjadi pendobrak keterbatasan, berani melawan oknum yang menyimpang, dan berani membuka tirai kepalsuan?
*) Oleh: Muhammad Aufal Fresky, Esais asal Madura
Editor : Almasrifah