Oleh:
Ridho Pratama Satria
Dosen Fakultas Ilmu Budaya Universitas Mulawarman
SEPERTI yang kita tahu, Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka, memberikan satu janji yang sangat ambisius saat ia berkampanye pada ajang Pemilihan Presiden dan Wakil Presiden tahun 2024 lalu. Janji itu adalah, terbukanya 19 juta lapangan pekerjaan. Namun sampai sekarang, masyarakat masih menagih janji sang wapres.
Mau diakui atau tidak, para politikus sangat rajin mengumbar janji-janji ambisius saat mereka berkampanye, seperti contohnya janji pendidikan gratis serta janji internet gratis. Masalahnya, janji-janji ini terucap karena para politikus salah paham tentang konsep growth paradox. Karena itulah, mereka berani menawarkan janji-janji yang terdengar ambisius, meskipun mereka sendiri belum punya rencana konkret untuk mengeksekusi janji yang mereka tawarkan.
Pemahaman Tentang Growth Paradox
Growth paradox, atau paradoks pertumbuhan, adalah kondisi di mana kita butuh waktu yang lebih lama dari perkiraan awal dalam mengapai satu impian yang kita inginkan. Namun ketika impian itu tercapai, kita akan merasa jika waktu berjalan sangat cepat atau bahkan terasa instan. Growth paradox bisa dilihat ketika seseorang sedang membangun karier atau merintis bisnis. Contoh sederhana dari growth paradox bisa dilihat pada seorang siswa SMA yang belajar keras untuk masuk ke kampus impiannya. Ketika ia berhasil masuk ke kampus impiannya, ia akan merasa waktu sudah berlalu dengan cepat, sehingga ia lupa dengan usaha keras yang telah ia lakukan. Intinya, growth paradox memperlihatkan adanya proses yang panjang untuk mengapai impian yang kita inginkan. Tapi ketika impian itu tercapai, semuanya terasa serba cepat dan instan.
Janji Ambisius Karena Salah Konsep Growth Paradox
Para politikus, dalam menyampaikan janji-janji kampanyenya, sering terdengar sangat ambisius. Hal ini wajar dilakukan agar mereka bisa menarik perhatian masyarakat, sehingga masyarakat mau memberikan dukungan mereka kepada sang politikus. Masalahnya, janji-janji itu diucapkan dengan konsep growth paradox yang salah.
Para politikus memberikan janji-janji kampanye yang berfokus pada hasil akhirnya saja. Mereka lupa jika hasil akhir itu akan tercapai melalui proses yang panjang. Masalah semakin rumit ketika para politikus ini menyampaikan janji-janji kampanyenya dengan penuh percaya diri. Rakyat pun terbujuk dengan rayuan janji-janji ambisius yang mereka dengarkan, sehingga mereka mau memberikan dukungannya kepada politikus yang berani memberikan janji-janji paling ambisius. Padahal saat berkampanye, para politikus ini belum punya rencana konkret untuk menepati janji yang mereka ucapkan.
Akibatnya, ketika para politikus naik jabatan, rakyat langsung meminta kepada sang politikus untuk menepati janji-janjinya. Wajar saja rakyat bereaksi seperti ini. Saat kampanye berlangsung, para politikus tidak menjelaskan peta rencana atau langkah-langkah konkret yang akan ia gunakan untuk mewujudkan semua janjinya. Karena itulah rakyat berpikir, setelah sang politikus naik jabatan, sang politikus siap mewujudkan semua hal yang telah ia janjikan.
Seperti contohnya janji 19 juta lapangan kerja. Janji ini terdengar sangat ambisius. Namun, untuk membuka 19 juta lapangan kerja, ada banyak hal yang harus disiapkan. Contohnya, jika pemerintah berfokus pada pembukaan lapangan kerja di sektor investasi, maka pemerintah harus menyiapkan iklim investasi yang ideal bagi para investor, sehingga para investor berani menanamkan modal dan berbisnis di Indonesia.
Di saat bersamaan, untuk membuka lapangan kerja dalam jumlah yang masif. Maka kondisi pertumbuhan ekonomi negara harus stabil, yang bisa dibuktikan dengan daya beli masyarakat yang stabil pula. Tanpa kondisi ekonomi yang baik, maka siapa yang akan berani membuka bisnis-bisnis baru untuk menyerap para pencari kerja ini?
Janji Ambisius Lainnya
Ada beberapa janji ambisius yang setara dengan janji 19 juta lapangan pekerjaan di atas. Janji itu datang dari Presiden Prabowo, yang mengatakan akan membuka 300 fakultas kedokteran baru. Janji ini sendiri diucapkan sang presiden, karena ia sadar Indonesia masih kekurangan dokter. Namun, sang presiden tidak menyadari, ada proses yang sangat panjang untuk mendirikan sebuah fakultas baru, terutama sekali fakultas kedokteran.
Ada banyak hal yang harus diperhatikan. Contohnya, regulasi akademik yang ketat dalam menjaring dosen dan mahasiswa baru yang akan berkuliah di jurusan kedokteran. Infrastruktur fakultas kedokteran sendiri tentu berbeda dengan fakultas-fakultas lain, sehingga sebelum fakultas ini dibuka, pihak kampus harus menyiapkan semua infrastrukturnya secara lengkap.
Di saat yang bersamaan, biaya kuliah di fakultas kedokteran sangat mahal. Kondisi ini membuat tidak semua orang bisa berkuliah di jurusan kedokteran. Jika mahasiswa mengandalkan beasiswa, maka ia harus bersaing dengan para pencari beasiswa lain, karena kuota beasiswa yang masih terbatas, apalagi kuota beasiswa untuk berkuliah di kedokteran.
Berdasarkan pembahasan janji-janji ambisius di atas, para politikus harus sadar, mereka harus memahami konsep growth paradox sebelum mereka mengumbar janji-janjinya kepada rakyat. Ada baiknya pula, mereka jelaskan langkah-langkah konkret yang akan mereka lakukan, untuk mewujudkan hal-hal yang mereka janjikan. Jangan sampai, mereka hanya menjual end-product atau hasil akhir yang belum tentu bisa mereka wujudkan. Jangan sampai pula, ketika para politikus ini sudah naik jabatan, mereka baru sadar jika mereka tidak bisa memenuhi janji yang telah mereka ucapkan sendiri. (***/rdh)
Editor : Muhammad Ridhuan