TANAH GROGOT – Balai Besar Pelaksanaan Jalan Nasional (BBPJN) Kalimantan Timur melalui Satuan Kerja Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) 1.2 resmi memulai proyek Preservasi Jalan dan Jembatan Ruas Batu Aji-Kuaro untuk tahun anggaran 2026. Proyek ini menelan nilai kontrak sebesar Rp 35.024.162.283 yang bersumber dari APBN.
PPK 1.2 Ruas Kuaro-Batu Aji BBPJN Kaltim, Muhammad Idris Djafar mengungkapkan bahwa hingga Semester II Tahun 2025, tingkat kemantapan jalan (IRI) di ruas sepanjang 73,70 km tersebut telah mencapai 94,44% atau sepanjang 69,69 km.
"Sementara itu, sisa 5,55% atau sekitar 4,10 kilometer dikategorikan sebagai jalan tidak mantap yang menjadi fokus penanganan tahun ini," kata Idris, Senin (16/2/2026).
Target utama BBPJN Kaltim adalah menjaga dan meningkatkan kualitas jalan melalui beberapa skema penanganan, mulai dari pemeliharaan rutin hingga rehabilitasi mayor pada koridor logistik.
Pekerjaan yang dijadwalkan berlangsung selama 329 hari kalender (6 Februari hingga 31 Desember 2026) ini terbagi ke dalam tiga fokus utama. Preservasi Pemeliharaan Rutin Jalan sepanjang 44,90 kilometer mencakup pemeliharaan rutin kondisi dan penunjang (holding). Item pekerjaan meliputi penutupan lubang, perbaikan jalan bergelombang di area tanjakan, serta penanganan bahu jalan yang amblas.
Sementara Preservasi Jalan Koridor Logistik sepanjang 3,00 kilometer berlokasi di wilayah Batu Kajang, terdiri dari rehabilitasi minor sepanjang 1.400 meter dan rehabilitasi mayor sepanjang 1.600 meter. Penanganan ini menggunakan metode overlay pengaspalan (AC-BC dan AC-WC PG-70) serta perbaikan sistem drainase.
Preservasi Jembatan Koridor Logistik sepanjang 90,00 meter meliputi pemeliharaan berkala pada empat jembatan utama, yakni Jembatan Sei Talewong, Sei Selerong, Sei Maleri I, dan Sei Maleri II.
"Proses pengadaan paket kegiatan ini dilakukan melalui metode E-Katalog Mini Kompetisi, yang diharapkan dapat menjamin transparansi dan efisiensi dalam penyerapan anggaran negara," katanya.
Peningkatan infrastruktur di ruas Batu Aji-Kuaro ini dinilai krusial mengingat posisinya sebagai jalur logistik utama (backbone) yang mendukung konektivitas ekonomi di wilayah Kalimantan Timur. (*)
Editor : Sukri Sikki