
KALTIMPOST.ID, PENAJAM – Pemerintah Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU) mengevaluasi kuota bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi jenis Bio Solar dan Pertalite bersama PT Pertamina Patra Niaga. Evaluasi dilakukan menyusul proyeksi defisit kuota di sejumlah stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU), serta maraknya praktik pengetap yang diduga mempercepat habisnya pasokan.
Rapat evaluasi yang digelar Kamis (15/10/2026) itu dikoordinasikan Bagian Perekonomian dan Sumber Daya Alam (SDA) Sekretariat Kabupaten (Sekkab) PPU. Sejumlah perwakilan satuan kerja perangkat daerah (SKPD) teknis turut hadir, di antaranya Dinas Perikanan, Dinas Pertanian, Dinas Perhubungan, Dinas Lingkungan Hidup (DLH), dan Dinas Kesehatan.
Rapat dipimpin Asisten Bidang Perekonomian dan Pembangunan Sekkab PPU Hadi Saputro, didampingi Kepala Bagian Perekonomian dan SDA Krisna Aditama.
Baca Juga: Meniti Langkah Menuju Tanah Perjanjian (4): Menapaki Jejak Iman di Balik Kemegahan Mesir Kuno
Krisna mengatakan, berdasarkan perhitungan Bagian Perekonomian dan SDA hingga Juli 2026, ketersediaan BBM bersubsidi di sejumlah SPBU di PPU berada dalam kondisi mengkhawatirkan.
Salah satu contohnya adalah SPBU Nipah-Nipah. Berdasarkan perhitungan kebutuhan dan penggunaan harian, SPBU tersebut mengalami defisit Bio Solar hingga 3.512 kiloliter (KL), dengan konsumsi rata-rata bulanan mencapai 502 KL.
Sementara itu, per Juli 2026, sisa kuota Bio Solar untuk periode Agustus hingga September di SPBU Nipah-Nipah hanya 511 KL. Kondisi ini memicu kekhawatiran terhentinya pasokan Bio Solar pada kuartal akhir tahun jika tidak segera diantisipasi, terutama menjelang Natal dan Tahun Baru (Nataru).
“Artinya, jika 511 kiloliter itu hanya cukup sampai Agustus, maka pada Oktober stok Bio Solar di sana bisa kosong. Prognosis kebutuhan hingga akhir tahun 2026 khusus di SPBU Nipah-Nipah kita hitung kasar mencapai sekitar 6.021 kiloliter untuk mengantisipasi lonjakan konsumsi Natal dan Tahun Baru,” kata Krisna dalam paparannya, Kamis (15/10/2026).
Kondisi serupa juga terjadi di SPBU Babulu. Untuk jenis Bio Solar, kuota awal sebesar 2.085 KL telah terpakai sebanyak 1.272 KL hingga Juli, sehingga tersisa 813 KL. SPBU tersebut diproyeksikan mengalami kekurangan Bio Solar sebanyak 2.181 KL hingga akhir tahun.
Defisit juga membayangi penyaluran Pertalite. Krisna merinci, SPBU Nipah-Nipah diproyeksikan kekurangan 10.906 KL, sedangkan SPBU Babulu mengalami kekurangan 5.810 KL hingga Desember 2026.
Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!





