Kenapa Kabut Asap Samarinda Makin Pekat Tiap Pagi? Begini Penjelasan BPBD Kaltim

SAMARINDA – Kabut asap pekat kembali terlihat menyelimuti Kota Samarinda pada Rabu (21/10). Kepala Pelaksana (Kalak) BPBD Kalimantan Timur (Kaltim), Buyung Dodi Gunawan, menjelaskan kabut asap yang masih menyelimuti sejumlah wilayah di Kaltim ini memang merupakan dampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang terjadi sejak Agustus hingga September 2026.
Buyung mengatakan, kebakaran yang mencapai puncaknya pada September tersebut diharapkan mulai menunjukkan tren penurunan pada Oktober. Namun, sisa partikel asap masih bertahan di lapisan atmosfer akibat minimnya curah hujan. Menurutnya, asap yang terlihat saat ini tidak seluruhnya berasal dari kebakaran yang masih berlangsung.
Sebagian merupakan sisa asap dari kebakaran sebelumnya yang belum sepenuhnya terurai dan terbawa ke wilayah lain. “Jadi, asap ini akibat kebakaran mulai Agustus sampai September yang puncaknya pada September. Mudah-mudahan Oktober ini trennya menurun,” ujarnya.
Ia menjelaskan, proses pemadaman karhutla tidak selalu menghilangkan seluruh sisa pembakaran. Meski api telah padam, material yang terbakar masih dapat menghasilkan asap sehingga partikel-partikelnya bertahan di udara. Selain itu, kabut asap di Kaltim juga berpotensi dipengaruhi perpindahan asap dari wilayah lain, terutama Kalimantan Tengah dan Kalimantan Selatan yang mengalami kebakaran cukup luas.
Buyung menyebut, asap yang terbawa ke Kaltim tersebut telah mengalami penguraian sehingga tidak lagi terlihat sepekat asap yang muncul langsung dari lokasi kebakaran. Kondisi ini kemudian menyerupai kabut atau mist.
Fenomena tersebut juga dipengaruhi kondisi atmosfer dan perubahan suhu permukaan bumi. “Kabut asap cenderung lebih terlihat pada pagi hari ketika suhu permukaan bumi relatif dingin, sehingga partikel yang berada di atmosfer dapat turun mendekati permukaan,” jelasnya.
Sebaliknya, ketika sinar matahari menembus permukaan bumi dan meningkatkan suhu, kabut asap dapat terangkat kembali sehingga tampak berkurang atau menghilang. Namun, kondisi tersebut dapat berulang ketika sinar matahari terhalang awan dan permukaan bumi kembali mendingin.
Akibatnya, kabut asap berpotensi muncul kembali, terutama pada pagi hari. Buyung menegaskan, kondisi kabut asap diperkirakan masih dapat berlangsung hingga musim hujan tiba. Curah hujan yang cukup tinggi dan merata diperlukan untuk membantu membersihkan partikel asap yang masih berada di atmosfer. “Jadi, kondisi ini akan terus terjadi sampai musim penghujan. Asap ini bisa hilang apabila terbawa air hujan yang turun cukup banyak dan masif,” pungkasnya. (riz)
Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!




