Utama Samarinda Balikpapan Kaltim IKN Nasional Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan Kesehatan

Sepuluh Kapal Belum Beroperasi, Distribusi Barang ke Mahulu Terancam Tersendat

Denny Saputra • Rabu, 11 Februari 2026 | 05:45 WIB
Beberapa kapal jurusan Samarinda-Kubar-Mahulu masih berjejer rapi di Dermaga Sungai Kunjang, Samarinda, Selasa (10/2). (FOTO DENNY SAPUTRA/KP)
Beberapa kapal jurusan Samarinda-Kubar-Mahulu masih berjejer rapi di Dermaga Sungai Kunjang, Samarinda, Selasa (10/2). (FOTO DENNY SAPUTRA/KP)

KALTIMPOST.ID-Terhentinya operasional 10 kapal angkutan penumpang dan barang rute Samarinda–Kutai Barat (Kubar)–Mahakam Ulu (Mahulu) berpotensi mengganggu aktivitas ekonomi di wilayah hulu Mahakam atau perbatasan dengan Malaysia.

Dari total 23 kapal yang biasa beroperasi, hingga kini baru 13 kapal yang mengantongi rekomendasi pembelian BBM bersubsidi. Sementara sisanya masih menunggu proses administrasi.

Adi Surya Budi, pemilik KM Noor Fitri Indah 3 mengaku masih menunggu realisasi janji percepatan yang disampaikan dalam kunjungan tim BPH Migas.

Ia mengatakan, berkas kapal miliknya telah diserahkan dan kini berada di Dinas Perhubungan (Dishub) Kaltim.

“Kami tetap menunggu seperti yang dijanjikan. Informasinya berkas sudah masuk ke Dishub, jadi tinggal menunggu saja. Katanya mungkin besok (hari ini) sudah ada kejelasan,” ujarnya dikonfirmasi di sela kunjungan tim BPH Migas di Dermaga Sungai Kunjang, Samarinda Selasa (10/2).

Adi yang juga sekretaris Organisasi Angkutan Mahakam Ulu (Orgamu) menilai kondisi saat ini cukup membingungkan.

Menurutnya, sebagian dari 10 kapal yang belum mendapat rekomendasi sebenarnya telah melengkapi dokumen. Namun belum diterbitkan surat keputusan.

“Yang kami tahu, berkas 10 kapal ini sebenarnya lengkap. Tapi SK-nya belum keluar. Sementara ada kapal yang belum lengkap justru bisa dapat izin sementara,” jelasnya.

Dia menerangkan, beroperasinya hanya 13 kapal tidak cukup untuk melayani keperluan di Kubar dan Mahulu. Dalam kondisi normal, seluruh kapal harus beroperasi untuk menjaga pola pelayaran harian.

“Tidak cukup. Harus semuanya jalan. Setiap hari itu ada dua kapal yang berangkat, jurusannya ke Melak-Kubar dan Long Bagun-Mahulu,” terangnya.

Adi menyebut, dampak paling terasa adalah terganggunya distribusi barang dan pasokan kebutuhan pokok di Mahulu. Bahkan kabarnya harga satu karung beras mencapai Rp 1 juta.

Selain itu, aktivitas buruh kapal juga terhenti karena kapal tidak bisa berlayar. “Kalau kapal tidak jalan, buruh tidak bekerja dan di Mahulu pasokan sembako bisa terganggu. Harapan kami satu, proses BBM ini bisa segera tuntas,” tutupnya. (rd)

 

DENNY SAPUTRA

@dennysaputra46

Editor : Romdani.
#penajam paser utara #ibu kota nusantara #Wali Kota Balikpapan Rahmad Masud #Mahakam Ulu #Kutai Barat