Utama Samarinda Balikpapan Kaltim IKN Nasional Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan Kesehatan

Anak Panah Sang Pemulung

Duito Susanto • Minggu, 22 Desember 2024 | 06:05 WIB
Ilustrasi
Ilustrasi

Cerpen Karya: M Huseni Labib
(Penggiat Kopi Tubruk 4/4)

Gelap belum pergi, malam masih malu berpamitan. Hanya beberapa kendaraan yang lewat, lampu-lampu sorotnya beradu dengan hitamnya aspal. Hari itu kabut lumayan tebal, setelah seharian diguyur hujan. Kata orangtua dulu, biasa ketika datang kabut tebal, itu jadi isyarat cuaca hari ini akan cerah.


Di tempat pembuangan sampah dekat perumahan. Tampak bayang sosok lelaki dan perempuan. Tak jauh dari mereka berdua, ada gerobak kayu dan dua anak yang tertidur pulas di dalamnya. Dia adalah Pak Udin bersama keluarganya. Ku kenal namanya dari tukang ojek di pangkalan.

Lelaki perantau yang bekerja mengais sampah dan barang bekas. Biasa ia dan istrinya tiap hari memulung di tempat itu, ditemani gerobak tua, dua ban rodanya telah menipis, dengan velg yang mulai karatan.


Sampah plastik botol mungkin sampai hari ini jadi masalah dunia, tantangan rumit untuk lingkungan. Tapi bagi keluarga itu menjadi rizki dan sumber uang untuk penghidupan. Tak terlalu banyak ia dapatkan. Dalam sehari mungkin hanya menghasilkan uang dua puluh lima ribu. Itupun harus menunggu beberapa hari terkumpul, hingga dapat di jual ke juragan pengepul.


Pemulung seperti Pak Udin, harus bermental kuat, tahan banting. Fisik dan perasaan. Stigma sebagai pekerjaan kotor, bau, bahkan menjijikkan bagi sebagian orang sudah biasa ia terima. Apalagi perilaku masyarakat dalam membuang sampah masih buruk. Sampah tak pernah dipilah-pilah. Dicampur sembarangan, sampah basah, kering, bahkan kotoran juga kadang dibuang sembarangan.


Tapi bagi Pak Udin, pekerjaan ini adalah satu-satunya yang bisa ia lakukan. Ia tak bersekolah, tak ada harta yang dimiliki dari kampung ketika merantau. Mencari pekerjaan sangatlah susah. Apalagi sekarang lulusan SMA, bahkan sarjana, saling berebut mencari lapangan pekerjaan.


Pagi tadi ia mendapatkan tumpukan koran bekas, dibacanya berita halaman pertama koran itu dengan cermat; "Angkatan kerja yang tidak terserap pasar dan menjadi pengangguran jumlahnya 7,47 juta orang. Penduduk usia kerja mencapai 215,37 juta orang. Angkatan kerja sebanyak 152,11 juta orang. Dari jumlah tersebut yang bekerja sebanyak 144,64 juta orang.


Cepat-cepat ia perlihatkan koran itu ke istrinya. "Bu, bersyukur kita masih bisa bekerja yang halal. Meski kotor dan bau tubuh kita," ucapnya sambil memegang tangan istrinya. Lalu ia menunjukkan berita koran bekas tentang pengangguran, di samping berita itu, terdapat tulisan yang viral tentang penghinaan oknum petinggi negeri kepada penjual es di acara pengajian.


"Terus semangat bu ya.., Tuhan tidak buta. Mungkin ini adalah jalan Allah mengubah hidup kita," bisik Pak Udin. "Amiin, ya pak. Ibu selalu berprasangka baik, tidak ada pekerjaan yang buruk, semua mulia. Asalkan niat baik, tidak merugikan dan mengambil hak orang," jawab istri Pak Udin dengan tatapan dalam.


Anaknya yang duduk di gerobak tersenyum bahagia, memandang kedua orang tuanya asyik ngobrol sambil berpegangan tangan. Sudah lama dia tidak melihat orang tuanya seperti itu. Meski masih remaja, ia telah merasakan bagaimana keras kehidupan keluarganya. Menjadi pemulung bukanlah pilihannya, tapi panggilan takdir yang hari ini tak bisa ditolak, ketika tak ada pilihan lagi. Saat negeri masih tertatih-tatih bangkit.


Sebagai anak pertama, Hendra seharusnya sudah waktunya sekolah lagi, setelah pernah lulus sekolah dasar. Sedang adiknya belum, karena masih berusia 2 tahun. Ia setiap hari membantu ibunya mengawasi adiknya di gerobak. Maklum, adiknya tidak mungkin ditinggal bekerja. Maka ia pun pasrah dengan keadaan. Dalam pikiran polosnya, menemani orang tuanya mungkin lebih baik. Dari pada mati kelaparan. Detik-detik waktu baginya adalah bagaimana bisa bertahan, untuk sesuap nasi menyambung hidup.


Seharian ini cukup lumayan, keluarga pemulung itu menemukan banyak barang bekas. Potongan besi tua cukup berat, mereka dapat di tempat sampah dekat simpang jalan. Biasanya harga besi seperti ini lumayan harganya. Dibandingkan tumpukan kertas bekas. Setelah mereka mandi di WC umum pasar metro. Kembalilah keluarga itu ke gubuk yang mereka dirikan di tanah kosong H Salam. Salah seorang tokoh masyarakat yang berbaik hati mengizinkan keluarga itu mendirikan gubuk berdinding seng bekas dan atap terpal.


"Ambilkan kresek itu, Hen," pinta ibunya. Hendra bergegas mengambilkan kresek hitam berisi sayuran. Ibunya sedang memasak dengan kayu bakar sisa-sisa bangunan yang dikumpulkan dari tempat sampah. Tungku dapurnya pun dari tumpukan batu bata. Malam ini mereka belum makan. Mereka tak sanggup membeli nasi bungkus, apalagi nasi goreng yang berderet di tepi jalan. Maka cara satu-satunya mereka masak sendiri. Dengan beras jatah yang ia beli dari pasar metro. Kadang mereka makan dengan tempe goreng, jika tak ada minyak, biasa lauknya mereka bakar.


Mereka makan begitu lahap, lapar membuat semuanya terasa nikmat. Meski hanya oseng kangkung dan tempe. Bagi mereka kenikmatan bukan lagi pada apa yang dimakan, tapi apa yang bisa dimakan untuk mengusir lapar. Mereka adalah bagian kumpulan masyarakat yang boleh jadi belum tersentuh. Karena negara belum mampu menjangkau secara keseluruhan perlindungan jaminan sosial kepada masyarakat miskin.


Gubuk yang mereka tinggali jauh dari layak huni. Dinginnya malam bisa mereka lawan. Tapi gigitan kerumunan nyamuk yang datang, kadang tak mampu mereka hadapi, sangat mengganggu untuk bisa tidur nyenyak. Karenanya Pak Udin biasanya membakar egg tray ayam karton yang ia dapatkan dari tempat sampah. Dan malam itu, saat langit cerah. Bebintangan kerlap-kerlip indah menggantung di langit, Pak Udin menghabiskan sejenak malamnya berbaring santai di atas kardus bekas kulkas bersama istrinya.


"Bu, Hendra waktunya masuk SMP, meski terlambat baiknya kita daftarkan sekolah," ucap Pak Udin. "Tapi sekolah mana yang bisa menerima Hendra?" jawab istrinya dengan wajah sedih. 

"Kita tak cukup biaya untuk mendaftarkan, minimal ratusan ribu sekarang jika mau daftar, belum lagi seragam dan peralatan sekolah."


"Kita usahakan saja bu, cari sekolah yang gratis, mungkin bisa kita tanya pada Om Joni nanti," jawab Pak Udin.


Suami istri pemulung itu sadar, bahwa anak-anak mereka perlu sekolah untuk masa depannya. Sebagai orang tua ia punya tanggung jawab pendidikan untuk ditunaikan. Meski mereka dari kampung, ternyata mata batinnya terbuka, bahwa anaknya adalah laksana anak panah yang harus diarahkan. Pikiran mereka seperti Khalil Gibran dalam The Prophet ketika ditanya tentang anak, " Engkaulah busur, dan anak-anakmu adalah anak panah yang meluncur. Sang pemanah membidik tanda sasaran di atas jalan tiada terhingga, dan Dia menekukkan engkau dengan kekuasaan-Nya agar anak panah dapat melesat cepat dan jauh."

Dekat adiknya, diam-diam Hendra ternyata belum tidur, matanya tak bisa terpejam. Suara obrolan orang tuanya yang lagi memikirkan masa depannya ia dengarkan dengan jelas. Tiba-tiba matanya berkaca-kaca, tangannya mengusap air mata yang menetes ke pipinya. Anak itu menanggung kesedihan mendalam. Batinnya pengin berteriak, kenapa nasib keluarganya belum berubah.


Meskipun ia hanya duduk dalam gerobak, dan kadang-kadang juga berjalan kaki menemani orang tuanya, ia telah melihat lingkungan ramai. Anak anak pagi yang berangkat sekolah, lalu-lalang orang yang berangkat pulang kerja. Motor dan mobil macet di lampu merah, para remaja nongkrong tanpa kerjaan. Semua itu menjadi memori yang tak mungkin ia lupakan. Kadang sesekali ketika kedua orang tuanya mengais sampah, ia melihat pengendara mobil berhenti membuang bungkusan, yang berisi tumpukan makanan basi yang tak bisa dimakan lagi.


Pengalaman hidup itulah yang membuat Hendra kadang sedih. Tapi apalah daya takdir kehidupan harus dihadapi. Apalagi ibunya sering menasihati, bahwa Tuhan Maha Pengasih dan Penyayang, Tuhan Maha Melihat. Apapun pekerjaan asalkan baik dan halal, sesungguhnya itulah kemuliaan sejati. Jangan rendah diri. Ibunya pernah berwasiat. Dan malam pun larut, anak itu akhirnya terpejam. 

Pagi-pagi sekali, seperti biasanya keluarga pemulung itu berjalan dari satu tempat sampah ke tempat lainnya. Di pangkalan ojek terlihat Om Joni lagi menunggu penumpang. Sesuai niat semalam, istri Pak Udin menanyakan tentang sekolah yang bisa menerima anaknya. Disampaikan niat itu dengan harap kepada Om Joni, dan akhirnya ia menyanggupi mencarikan informasi di kampungnya, kebetulan rumahnya berdekatan dengan salah satu sekolah swasta yang ketua yayasannya ia kenal baik.


Hari beringsut sore, ketika keluarga itu istirahat di bawah pohon ketapang taman kota. Tak disangka datanglah H Salam, sosok yang sudah meminjamkan tanahnya untuk gubuk mereka. Pak Udin penasaran, ada apa gerangan maksud H Salam mendatangi mereka. Apakah mereka akan disuruh pindah dan membongkar gubuknya?


H Salam menyalami mereka. "Pak Udin, kata Joni, bapak mau nyari sekolah untuk anaknya ya.”

Mendengar pertanyaan H Salam, pemulung itupun langsung semangat. "Inggih pak haji, ini Hendra mau saya sekolahkan lagi, kasihan kalo tidak lanjut."


"Oo, kalau gitu biar Hendra melanjutkan di sekolah kami saja, gratis. Tapi dengan satu syarat."


"Syarat apa itu pak?” tanya Pak Udin dengan tatapan cerah seakan ia akan mendapatkan rezeki berlimpah.


"Bapak mau kerja di sekolah saya, membantu membersihkan dan merawat taman. Gaji dan asrama kami siapkan dengan listrik dan air bersihnya."

"Betul pak haji, apakah ini nda mimpi?"
"Nda pak, apa bapak mau?" sahut H Salam.
Spontan Pak Udin hendak memeluk H Salam, tapi ketika ia sadar tubuhnya kotor karena bekerja seharian ia pun hanya menunduk syukur dari dekat.

"Kenapa mundur Pak Udin, sini mendekat."
Dipeluklah Pak Udin oleh H Salam. Istri dan kedua anaknya terlihat menyalami, mencium tangan orang tua yang berhati baik itu. Tak disangka doa dan harapan untuk mengubah hidupnya di dengarkan Tuhan, didatangkan orang baik untuk menolongnya.


"Pak Udin, saya tahu bapak dengan keluarga menjadi pemulung, pekerjaan yang kadang dianggap rendah. Tapi bapak harus bersyukur dan tegak kepala, karena ini pekerjaan bersih. Meski tubuh kotor. Karena di sana banyak tubuh-tubuh bersih tapi bergelimang dengan pekerjaan kotor," ucap H Salam menutup obrolannya. (*)

Editor : Duito Susanto