
BALIKPAPAN – Masa depan energi Indonesia tidak hanya ditentukan oleh ketersediaan sumber daya alam dan kecanggihan teknologi. Di balik keberlanjutan pasokan energi nasional, dibutuhkan sumber daya manusia yang mampu berpikir kritis, beradaptasi dengan perubahan, serta melahirkan inovasi untuk menjawab tantangan industri yang semakin kompleks.
Perspektif inilah yang dibawa PT Pertamina Hulu Energi (PHE) melalui program Upstream Youth Champs (UYC) 2026 di Institut Teknologi Kalimantan (ITK), Balikpapan, Kamis (29/10).
Mengusung tema “Menggali Potensi, Menggerakkan Energi”, kegiatan tersebut menjadi ruang pertemuan antara dunia industri, akademisi, dan generasi muda untuk membicarakan masa depan energi Indonesia.
Mahasiswa tidak hanya diperkenalkan dengan aktivitas industri hulu minyak dan gas bumi (migas), tetapi juga diajak memahami kompetensi yang dibutuhkan untuk menghadapi tantangan sektor energi di masa mendatang.
Persoalan energi menjadi semakin strategis seiring meningkatnya kebutuhan masyarakat dan aktivitas ekonomi. Di sisi lain, industri hulu migas menghadapi tantangan yang tidak sederhana, mulai dari menemukan cadangan baru, mengoptimalkan produksi lapangan eksisting, mengembangkan teknologi, hingga beradaptasi dengan arah transisi energi.
Sebagai Subholding Upstream Pertamina, PHE memiliki posisi penting dalam menjaga keberlanjutan produksi migas nasional. Perusahaan ini mengelola sekitar 27 persen wilayah kerja operator migas di Indonesia, dengan kontribusi sekitar 69 persen terhadap lifting minyak domestik dan 35 persen terhadap lifting gas domestik.
Pada semester I 2026, produksi migas PHE mencapai sekitar 935 ribu barel setara minyak per hari (MBOEPD). Angka tersebut menunjukkan besarnya skala operasional sekaligus kebutuhan terhadap inovasi dan pengembangan talenta untuk mempertahankan kinerja industri hulu migas.
Senior Engineer Performance & Technical Support Pertamina Hulu Mahakam, Brightly Suryajaya, menilai tantangan industri energi ke depan menuntut generasi muda memiliki kemampuan yang lebih luas daripada sekadar penguasaan bidang akademik.
“Tantangan industri energi ke depan membutuhkan talenta yang tidak hanya memiliki pengetahuan di bidangnya, tetapi juga mampu berpikir kritis, beradaptasi, dan bekerja sama untuk mencari solusi. Karena itu, penting bagi generasi muda untuk memahami bahwa kontribusi terhadap sektor energi dapat datang dari berbagai disiplin ilmu,” ujarnya.
Menurutnya, mahasiswa perlu melihat peluang pengembangan kompetensi secara lebih luas agar dapat mengambil peran dalam mendukung masa depan energi Indonesia.
Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!




