Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Ekonom Sebut Ketegangan Global Bisa Tekan Rupiah Lebih Dalam, Ini Alasannya

U
Penulis: Ulil Mu'Awanah❯

Ekonom Universitas Mulawarman Purwadi Purwoharsojo.
Ekonom Universitas Mulawarman Purwadi Purwoharsojo.

KALTIMPOST.ID, BALIKPAPAN - Ketidakpastian ekonomi global kembali menjadi sorotan menyusul meningkatnya konflik geopolitik dan rivalitas ekonomi antarnegara besar.


Advertisement

Kondisi tersebut dinilai berpotensi memberi tekanan serius terhadap stabilitas nilai tukar rupiah, terutama jika respons kebijakan domestik tidak cukup kuat untuk meredam gejolak eksternal.

Disampaikan Ekonom Universitas Mulawarman Purwadi Purwoharsojo menilai, situasi global saat ini menunjukkan kecenderungan negara-negara besar membangun blok ekonomi sendiri demi menjaga kepentingan nasional mereka.

Pola ini, menurutnya, membuat negara berkembang seperti Indonesia berada dalam posisi rentan jika terlalu bergantung pada dinamika eksternal.

Baca Juga: Minim Anggaran, Komisioner KPU PPU Pilih Jadi Pembina Upacara di Sekolah untuk Sosialisasi Pemilu

Ia menjelaskan bahwa konflik global tidak lagi sebatas perang terbuka, tetapi juga perang ekonomi yang berdampak langsung pada perdagangan, arus modal, dan nilai tukar.

Advertisement

“Ketika negara-negara besar mulai bersikap agresif dan protektif, negara berkembang harus ekstra hati-hati. Jangan sampai kita ikut terseret dan justru melemahkan fondasi ekonomi sendiri,” ucapnya.

Purwadi menekankan bahwa pelemahan rupiah bisa semakin dalam apabila fundamental ekonomi nasional tidak diperkuat. Ia mengingatkan bahwa tekanan terhadap mata uang sering kali dipicu oleh sentimen global, terutama ketika dolar menguat tajam akibat krisis atau konflik internasional.

Dalam kondisi tersebut, pemerintah dinilai perlu menjaga stabilitas kebijakan dan memperkuat koordinasi antarotoritas keuangan. Menurutnya, sinergi antara Bank Indonesia dan lembaga terkait harus benar-benar solid agar kebijakan moneter dan fiskal berjalan seirama.

Baca Juga: Program Jaksa Masuk Sekolah Edukasi Siswa SMK 6 Samarinda soal Hukum

“Kalau koordinasi kebijakan tidak satu napas, dampaknya bisa ke mana-mana. Kredit tetap mahal, daya beli tertekan, dan ekonomi domestik jadi sulit bergerak,” katanya.

Ia menambahkan, penguatan ekonomi dalam negeri menjadi kunci agar Indonesia tidak terlalu bergantung pada faktor eksternal.

Stabilitas rupiah, kata dia, bukan hanya soal nilai tukar, tetapi juga menyangkut kepercayaan pasar terhadap kemampuan negara mengelola ekonominya di tengah tekanan global yang semakin kompleks. (*)

Advertisement
Sudahkah Anda mengikuti channel whatsapp kami?
WhatsApp
Kaltim PostIkuti

Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!


Artikel Terkait

Rupiah Menguat ke Rp 17.925 per Dolar AS, Terkatrol Penurunan Harga Minyak Dunia

Rupiah Menguat ke Rp 17.925 per Dolar AS, Terkatrol Penurunan Harga Minyak Dunia

Rupiah menguat ke Rp17.925/USD terdorong penurunan harga minyak dunia. BI tetap siaga lakukan intervensi pasar jaga stabilitas.

Sore Ini Rupiah Ditutup Menguat, Naik 71 Poin ke Level Rp17.851 per Dolar AS

Sore Ini Rupiah Ditutup Menguat, Naik 71 Poin ke Level Rp17.851 per Dolar AS

Nilai tukar rupiah naik 71 poin ke Rp17.851 per dolar AS. Penguatan didukung sentimen positif pasar global dan mata uang Asia.

Rupiah Lesu, Toko di Singapura Kasih Diskon 10 Persen Khusus WNI Bikin Warganet Bereaksi

Rupiah Lesu, Toko di Singapura Kasih Diskon 10 Persen Khusus WNI Bikin Warganet Bereaksi

Di saat rupiah yang terus mengalami tekanan, sebuah toko di Singapura justru menghadirkan promo khusus bagi warga negara Indonesia.

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer