Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Tak Sekadar Pendataan, Sensus Ekonomi Jadi "Tempat Curhat" Pelaku Usaha

Raden Roro Mira Budi Asih
POTRET DUNIA USAHA: Petugas saat melakukan pendataan sampel usaha masyarakat. Kepala BPS Kaltim Mas
POTRET DUNIA USAHA: Petugas saat melakukan pendataan sampel usaha masyarakat. Kepala BPS Kaltim Mas'ud Rifai mengimbau seluruh pelaku usaha memberikan data secara jujur dan terbuka pada Sensus Ekonomi (SE) 2026 demi akurasi potret ekonomi daerah.

Advertisement

SAMARINDA - Menolak didata saat Sensus Ekonomi (SE) 2026 bukan hanya membuat usaha luput dari statistik. Lebih dari itu, pelaku usaha berisiko kehilangan kesempatan agar kebutuhan dan persoalan yang mereka hadapi tercermin dalam kebijakan pemerintah.

Oleh sebab itu, Badan Pusat Statistik (BPS) Kalimantan Timur mengajak masyarakat berpartisipasi secara terbuka selama pendataan berlangsung. Sensus bukan sekadar menghitung jumlah pelaku usaha. Data yang dikumpulkan menjadi dasar pemerintah membaca kebutuhan dunia usaha sehingga kebijakan yang lahir benar-benar sesuai kondisi di lapangan.

"Kalau pelaku usaha tidak tercatat, berarti aspirasinya juga tidak muncul. Pemerintah akhirnya tidak punya data yang cukup untuk membuat keputusan," tegas Kepala BPS Kaltim Mas'ud Rifai. Menurutnya, kualitas sensus ditentukan oleh dua pihak sekaligus, yakni petugas yang menjalankan pendataan sesuai prosedur dan responden yang bersedia memberikan informasi secara jujur.

"Petugas harus terlatih, tetapi responden juga harus mau mengungkapkan data apa adanya. Kalau salah satunya tidak muncul, kualitas data menjadi kurang," ujarnya, Selasa (7/7). Mas'ud menjelaskan, hasil sensus selama ini telah menjadi dasar lahirnya berbagai kebijakan ekonomi nasional. Salah satunya, SE 2006 yang memotret besarnya peran UMKM sehingga mendorong lahirnya berbagai regulasi penguatan UMKM.

Sementara hasil SE 2016 menunjukkan masih rendahnya akses pembiayaan UMKM ke perbankan yang kemudian direspons pemerintah melalui berbagai kebijakan perluasan akses pembiayaan. Oleh sebab itu, dia menilai partisipasi masyarakat dalam sensus bukan semata membantu BPS, melainkan juga memastikan kondisi riil dunia usaha dapat diterjemahkan menjadi kebijakan yang tepat sasaran.

Advertisement

Apabila menemui penolakan di lapangan, BPS tidak serta-merta menghentikan pendataan. "Berbagai pendekatan dilakukan, mulai dari melibatkan supervisor, berkoordinasi dengan ketua RT, lurah, camat hingga asosiasi usaha agar pelaku usaha bersedia memberikan data," sebutnya.

Dia menegaskan, secara regulasi masyarakat memang memiliki kewajiban memberikan data dalam sensus. Namun, BPS lebih mengedepankan edukasi dan pendekatan persuasif dibandingkan langkah represif. "Jangan dipandang sensus ini hanya sebagai kebutuhan pemerintah. Ini juga kebutuhan masyarakat sendiri. Semakin lengkap data yang diberikan, semakin tepat pula kebijakan yang bisa disusun untuk menjawab kebutuhan pelaku usaha," pungkasnya. (riz)

Advertisement
Sudahkah Anda mengikuti channel whatsapp kami?
WhatsApp
Kaltim PostIkuti

Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!


Artikel Terkait

Dukung Penuh Sensus Ekonomi 2026, Diskominfo Kubar Ajak Pelaku Usaha Beri Data Jujur

Dukung Penuh Sensus Ekonomi 2026, Diskominfo Kubar Ajak Pelaku Usaha Beri Data Jujur

Pelaksanaan Sensus Ekonomi 2026 (SE2026) di Kabupaten Kutai Barat mulai bergulir.

Hetifah Apresiasi Presiden, Sensus Ekonomi 2026 Jadi Fondasi Kebijakan Berbasis Data

Hetifah Apresiasi Presiden, Sensus Ekonomi 2026 Jadi Fondasi Kebijakan Berbasis Data

Hetifah Sjaifudian menilai Sensus Ekonomi 2026 menjadi fondasi kebijakan dan RAPBN 2027. Data dinilai penting untuk jadi fondasi kebijakan.

Pendataan Sensus Ekonomi Kaltim Capai 74 Persen, BPS Ungkap Perubahan Tren Usaha Berbasis Digital

Pendataan Sensus Ekonomi Kaltim Capai 74 Persen, BPS Ungkap Perubahan Tren Usaha Berbasis Digital

Sensus Ekonomi Kaltim 2026 tembus 74 persen. BPS Mas'ud Rifai beberkan perubahan tren pelaku usaha yang kini makin dominan online.

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer