Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Kabar Duka, Hj Maskota Muradiah Maestro Wadai Talam Khas Samarinda Seberang Meninggal Dunia

B
Penulis: Bayu Rolles❯
Almarhumah Hj Maskota Muradia semasa hidup. Maestro peracik kue tradisional khas Banjar dan Wadai Talam legendaris Samarinda tersebut meninggal dunia pada usia 76 tahun di RS Mulya Medika.
Almarhumah Hj Maskota Muradia semasa hidup. Maestro peracik kue tradisional khas Banjar dan Wadai Talam legendaris Samarinda tersebut meninggal dunia pada usia 76 tahun di RS Mulya Medika.

Advertisement

KALTIMPOST.ID, SAMARINDA - Ada rasa yang tak bisa digantikan ketika seorang peracik resep pergi. Apalagi ketika resep itu telah melewati puluhan tahun, diwariskan dari generasi ke generasi, dan menjadi bagian dari ingatan banyak orang.

Maskota Muradiah, maestro di balik Wadai Talam khas Samarinda Seberang, meninggal dunia pada 23 Oktober 2026.  Perempuan berusia 76 tahun itu mengembuskan napas terakhir setelah menjalani perawatan medis di Rumah Sakit Mulya Medika.

Kepergiannya meninggalkan duka bagi keluarga dan para pelanggan setia kue tradisional racikannya di Jalan Bung Tomo, Baqa, Samarinda.

Advertisement

Anak bungsunya, Khairunnisa yang akrab disapa Icha, mengatakan kondisi kesehatan sang ibu menurun dalam beberapa waktu terakhir. Terlebih setelah menjalani operasi besar.

“Ibu sudah beberapa waktu ini berjuang melawan sakit. Kesehatan beliau melorot drastis seusai menjalani prosedur operasi besar, sampai akhirnya dipanggil Yang Maha Kuasa pada Jumat siang,” kata Icha saat ditemui di rumah duka.

Advertisement

Wadai Talam Maskota punya perjalanan panjang hingga akhirnya memiliki citarasa tersendiri di lidah masyarakat Kota Tepian.  Icha menuturkan, usaha kue tradisional itu dirintis oleh neneknya, Siti Zaenab, yang akrab disapa Mbah Hatim. Sejak kecil, Maskota sudah akrab dengan dapur dan aneka kue basah khas Banjar.

Ketika masih muda, Maskota berkeliling menyusuri sudut-sudut kota Samarinda menjajakan nampan berisi kue yang dijunjung di atas kepalanya. Dari langkah-langkah membantu sang ibu itu, kudapan khas itu kelak jadi perjalanan merawat resep keluarga. 

Setelah Siti Zaenab meninggal dunia pada 1986, Maskota mengambil alih usaha tersebut dan melanjutkan tradisi yang telah dibangun pendahulunya, sekaligus merawat cita rasa yang membuat kue-kue racikannya dicari pelanggan.

Salah satu yang menonjol adalah amparan tatak. Kuliner tradisional khas Banjar itu masuk dalam daftar Warisan Budaya Takbenda (WBTb) Indonesia melalui sidang penetapan yang berlangsung pada 5–11 Oktober 2025 di Jakarta.

Penetapan dilakukan melalui proses yang melibatkan Direktorat Perlindungan Kebudayaan dan Tradisi Kementerian Kebudayaan RI, dengan keikutsertaan perwakilan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kaltim, Samarinda, serta sejumlah daerah lainnya.

Advertisement
Sudahkah Anda mengikuti channel whatsapp kami?
WhatsApp
Kaltim PostIkuti

Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!


Artikel Terkait

Begini Kronologi Uang Ratusan Juta Raib, Pelaku Beraksi di NTT, Balikpapan hingga Samarinda

Begini Kronologi Uang Ratusan Juta Raib, Pelaku Beraksi di NTT, Balikpapan hingga Samarinda

Dua spesialis pembobol mesin ATM di Samarinda diringkus polisi setelah gasak uang Rp 433,5 juta. Simak kronologi aksi dan penangkapan.

Pencuri Komponen Speedboat di Samarinda Ternyata Pembunuh, Begini Kronologinya

Pencuri Komponen Speedboat di Samarinda Ternyata Pembunuh, Begini Kronologinya

Polisi tangkap pelaku pembunuhan buruh lepas di Dermaga Speedboat Samarinda. Motif sakit hati usai dituduh mencuri BBM. Simak fakta.

Jual Komponen Speedboat Rp1,5 Juta, Uang Pelaku Habis Buat Beli Tas, Sabu-Sabu, dan Judi Online

Jual Komponen Speedboat Rp1,5 Juta, Uang Pelaku Habis Buat Beli Tas, Sabu-Sabu, dan Judi Online

Polsek Kawasan Pelabuhan Samarinda meringkus pelaku pencurian komponen speedboat di Dermaga Jalan Tongkol.

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer