
KALTIMPOST.ID – Seorang hakim federal resmi menolak gugatan yang didukung Donald Trump untuk memblokir sertifikasi hasil pemilihan Senat di Alaska. Gugatan ini sebelumnya diajukan untuk membatalkan hasil pemungutan suara apabila petahana dari Partai Republik, Dan Sullivan, dinyatakan kalah.
Seperti dilansir The Guardian, intervensi Departemen Kehakiman AS ini sempat memicu kontroversi. Para ahli hak suara menyebut langkah tersebut sebagai campur tangan pemerintah federal yang belum pernah terjadi sebelumnya di tengah perebutan kursi kongres yang sengit.
Dalam gugatannya, Departemen Kehakiman mengeklaim adanya potensi kebingungan pemilih karena terdapat dua kandidat bernama Dan Sullivan di surat suara. Pihak Republik khawatir kehadiran kandidat kedua ini akan mengalihkan suara dari petahana dan menguntungkan calon dari Partai Demokrat, Mary Peltola.
Departemen Kehakiman menyatakan akan mengajukan banding atas putusan hakim tersebut. "Pemilih Alaska berhak mendapatkan pemilu yang adil dan tidak disesatkan oleh upaya manipulasi hasil," ujar juru bicara departemen tersebut dalam sebuah pernyataan.
Sementara itu, Dan Sullivan menegaskan bahwa ia akan menerima apa pun hasil pemilihan mendatang. Dalam wawancara dengan CNN, Sullivan memastikan ia tidak akan menuntut hasil pemilu hanya jika ia menang. "Saya akan menerima hasil pemilu," kata Sullivan saat menjawab pertanyaan terkait legitimasi hasil pemilihan.
Baca Juga: OIKN Tanam 1.000 Pohon di Tahura Bukit Soeharto, Ini Daftar Jenis Bibit untuk Pulihkan Hutan Kaltim
Isu ini mencuat setelah investigasi The New York Times mengungkapkan bahwa tim kampanye Peltola diduga sengaja merekrut pria lain yang memiliki nama sama dengan Sullivan. Tujuannya adalah untuk memecah suara pendukung petahana Partai Republik tersebut.
Sejak temuan itu tersebar, Donald Trump dan jajaran Partai Republik mendesak agar Peltola didiskualifikasi dan menghadapi proses hukum. Sebaliknya, Peltola terus membantah keterlibatannya dan mengaku tidak mengetahui adanya skema tersebut di dalam tim kampanyenya.
Sullivan sendiri mengaku tetap fokus pada upayanya untuk memenangkan pemilihan secara langsung. Meski begitu, ia tetap meragukan pernyataan Peltola yang mengaku tidak tahu menahu mengenai kemunculan kandidat kedua dengan nama yang sama di surat suara.
"Dia terus berbohong kepada masyarakat Alaska. Saya jamin, dia berbohong saat ini," ucap Sullivan menanggapi klaim sang rival. Di sisi lain, The Washington Post melaporkan bahwa Partai Republik juga sempat melakukan taktik serupa dengan mendukung kandidat Demokrat yang tidak kompeten dalam pemilihan pendahuluan di Alaska. (*)
Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!





