KALTIMPOST.ID, Gelombang protes dan mogok kerja massal terus mengguncang Israel. Lebih dari 800 ribu warga Israel turun ke jalan dan menghentikan aktivitas kerja, Senin (2/9/2024).
Tindakan ini dipicu oleh kemarahan publik terhadap pemerintah yang dipimpin Perdana Menteri Benjamin Netanyahu, terutama terkait kegagalannya dalam menangani keselamatan enam tawanan yang tewas di Jalur Gaza.
Protes ini bukan hanya menjadi ajang pelampiasan kemarahan warga, tetapi juga seruan tegas agar pemerintah menyetujui kesepakatan gencatan senjata yang dapat memulangkan tawanan lainnya dengan selamat.
Netanyahu, yang dikenal keras dalam kebijakannya, berulang kali menolak usulan gencatan senjata, memicu kemarahan lebih lanjut di kalangan publik.
Tidak hanya pekerja biasa, serikat pekerja terbesar di Israel, Histadrut, yang memiliki pengaruh signifikan, juga turut serta dalam aksi mogok ini.
Dilansir dari berbagai sumber, seperti Al Jazeera dan The Guardian, mogok kerja ini didukung penuh oleh produsen dan pengusaha utama di sektor teknologi tinggi Israel, termasuk perusahaan besar seperti Wix, Fiverr, dan Monday.com.
Forum Bisnis Israel, yang mewakili sebagian besar pekerja sektor swasta dari 200 perusahaan terbesar di negara tersebut, juga bergabung dalam aksi mogok, yang pada akhirnya menyebabkan dampak luas pada perekonomian Israel.
Aksi protes yang dimulai sejak Minggu malam (1/9) ini menunjukkan ketidakpuasan mendalam terhadap pemerintahan Netanyahu, dengan tuntutan yang semakin menguat untuk perubahan nyata dalam kebijakan pemerintah. (*)
Editor : Dwi Puspitarini