Utama Samarinda Balikpapan Kaltim IKN Nasional Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan Kesehatan

AI Bukan Soal Pintar, tapi Soal Cara Berpikir

Muhammad Rizki • Rabu, 7 Januari 2026 | 19:16 WIB

Dr Decky C. Kananto Lihu.
Dr Decky C. Kananto Lihu.

Oleh: Decky C. Kananto Lihu, Dr.

Dosen Pascasarjana Ilmu Komunikasi,
Universitas Islam Kalimantan Muhammad Arsyad Al Banjari (Uniska MAB), Banjarmasin.

PERKEMBANGAN kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) saat ini berlangsung sangat cepat. Berbagai platform dan aplikasi AI bermunculan dengan fungsi dan keunggulan masing-masing. Menariknya, di tengah banyaknya pilihan tersebut, orang sering merasa lebih “nyaman” menggunakan AI tertentu dibanding yang lain.

Perbedaan ini kerap dianggap sekadar soal kebiasaan atau selera pribadi. Padahal, jika dicermati lebih jauh, kenyamanan terhadap AI sesungguhnya mencerminkan cara berpikir manusia itu sendiri.

Pengalaman sederhana menunjukkan hal tersebut. Dalam sebuah diskusi santai, saya dan seorang rekan berbincang tentang AI yang paling sering kami gunakan. Ia merasa sangat terbantu dengan AI yang menyajikan jawaban singkat, langsung ke inti, lengkap dengan rujukan.

Sementara saya justru lebih nyaman dengan AI yang membuka ruang dialog, memberi penjelasan bertahap, bahkan terkadang mengajak berpikir lebih jauh. Tidak ada yang salah dari keduanya. Namun dari situ terlihat bahwa AI bukan semata soal kecanggihan teknologi, melainkan soal kecocokan dengan pola berpikir penggunanya.

Perbedaan ini menjadi lebih mudah dipahami jika dikaitkan dengan latar belakang keilmuan. Mereka yang terbiasa dengan ilmu pasti, seperti teknik atau sains, umumnya akrab dengan jawaban yang ringkas, presisi, dan terukur.

Sebaliknya, mereka yang berlatar ilmu sosial dan humaniora cenderung terbiasa menelusuri konteks, makna, dan proses di balik sebuah persoalan. AI kemudian berfungsi layaknya cermin: ia memantulkan kebiasaan berpikir penggunanya, bukan mengubahnya secara ajaib.

AI pada dasarnya tidak berdiri sendiri. Ia bekerja mengikuti cara manusia bertanya, memerintah, dan menyusun persoalan. Orang yang terbiasa mencari kepastian akan memanfaatkan AI sebagai alat pencari jawaban cepat.

Sementara mereka yang terbiasa berpikir reflektif akan menggunakan AI sebagai ruang berdialog dan menguji gagasan. Keduanya sah dan sama-sama bermanfaat, selama disadari peran dan batasnya.

Sayangnya, dalam perbincangan publik, AI sering diposisikan secara berlebihan. Ada yang menganggap AI sebagai solusi untuk semua masalah, ada pula yang mencurigainya sebagai ancaman bagi kemampuan berpikir manusia. Dua pandangan ini sama-sama kurang tepat. AI tidak otomatis membuat seseorang lebih pintar.

Sebaliknya, AI justru cenderung memperkuat kecenderungan berpikir yang sudah dimiliki penggunanya. Jika seseorang terbiasa berpikir dangkal, AI dapat membuatnya semakin dangkal. Namun jika seseorang terbiasa berpikir kritis, AI dapat menjadi alat yang memperkaya proses berpikir tersebut.

Dalam dunia pendidikan, terutama di perguruan tinggi, pemahaman ini menjadi sangat penting. Alih-alih melarang atau memuja AI secara berlebihan, pendidik perlu mengajak mahasiswa memahami bagaimana dan untuk apa AI digunakan.

AI seharusnya tidak menggantikan proses berpikir, melainkan membantu mempertajamnya. Kualitas hasil belajar bukan ditentukan oleh AI apa yang digunakan, tetapi oleh kualitas pertanyaan dan cara berpikir penggunanya.

Bagi masyarakat luas, kesadaran ini juga relevan. Tidak perlu merasa tertinggal hanya karena tidak menggunakan platform AI tertentu, atau merasa paling maju karena menguasai satu aplikasi. Yang lebih penting adalah bagaimana teknologi tersebut digunakan untuk memahami persoalan, mengambil keputusan, dan memaknai realitas sehari-hari.

Pada akhirnya, AI bukan soal siapa yang paling pintar atau paling cepat mendapatkan jawaban. AI adalah soal cara berpikir manusia yang menggunakannya. Selama kita menyadari hal itu, AI tidak akan menjauhkan manusia dari kemanusiaannya. Sebaliknya, ia justru dapat membantu kita mengenali cara berpikir kita sendiri dengan lebih jujur dan sadar. (*/riz)

 

Editor : Muhammad Rizki
#artificial intelegence