Utama Samarinda Balikpapan Kaltim IKN Nasional Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan Kesehatan

Apa Dampak Berakhirnya New START terhadap Keamanan Global dan Stabilitas Nuklir Dunia?

Dwi Puspitarini • Kamis, 5 Februari 2026 | 11:24 WIB
Ilustrasi. Berakhirnya perjanjian New START antara Rusia dan Amerika Serikat memicu kekhawatiran baru terhadap keamanan global dan senjata nuklir.
Ilustrasi. Berakhirnya perjanjian New START antara Rusia dan Amerika Serikat memicu kekhawatiran baru terhadap keamanan global dan senjata nuklir.

KALTIMPOST.ID, Berakhirnya perjanjian New START menandai perubahan besar dalam lanskap keamanan global.

Untuk pertama kalinya dalam lebih dari lima dekade, Rusia dan Amerika Serikat kini tidak lagi terikat aturan hukum dalam pengembangan dan pembatasan senjata nuklir strategis.

Perjanjian pengendalian senjata nuklir New START resmi berakhir pada 5 Februari, mengakhiri salah satu pilar terakhir yang selama ini menjaga transparansi dan keseimbangan kekuatan nuklir dunia.

Padahal, Rusia dan Amerika Serikat bersama-sama menguasai sekitar 87 persen dari total hulu ledak nuklir global, menurut data Federasi Ilmuwan Amerika.

 Baca Juga: Teror Kimia di Perbatasan, Lebanon Tuding Israel Sebar Racun Herbisida, UNIFIL Ikut Terdampak!

Pilar Terakhir Pengendalian Nuklir Resmi Hilang

New START ditandatangani pada 2010 oleh Presiden Rusia saat itu Dmitry Medvedev dan Presiden Amerika Serikat Barack Obama.

Kesepakatan ini membatasi jumlah senjata nuklir strategis yang boleh dikerahkan kedua negara.

Dalam perjanjian tersebut, Rusia dan Amerika Serikat dibatasi maksimal 700 sistem peluncur senjata nuklir strategis, termasuk rudal balistik antarbenua, rudal berbasis kapal selam, serta pesawat pembom berat berkekuatan nuklir. Selain itu, masing-masing negara hanya diperbolehkan memiliki 1.550 hulu ledak nuklir.

Tanpa perjanjian pengganti, seluruh mekanisme verifikasi dan inspeksi yang selama ini berjalan otomatis berhenti.

 Baca Juga: Lonjakan Akhir Tahun Dongkrak Ekspor Kaltim Hingga 36,77 Persen, Sektor Ini Paling Signifikan

Rusia Anggap Diamnya AS sebagai Sikap Politik

Hingga kini, Amerika Serikat di bawah pemerintahan Presiden Donald Trump belum memberikan tanggapan resmi atas tawaran Rusia untuk memperpanjang perjanjian New START.

Melansir dari radarsitubondo.jawapos.com, Wakil Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Ryabkov menanggapi situasi tersebut dengan pernyataan singkat namun tegas.

“Ketiadaan respons juga merupakan bentuk jawaban,” ujar Sergei Ryabkov.

Peringatan Medvedev: Tidak Otomatis Perang, Tapi Tetap Berbahaya

Kekhawatiran juga disampaikan oleh Dmitry Medvedev, yang kini menjabat sebagai Wakil Ketua Dewan Keamanan Rusia.

Ia menegaskan bahwa berakhirnya New START memang tidak langsung berarti perang nuklir, namun tetap berisiko besar.

“Berakhirnya New START tidak otomatis memicu perang nuklir, tetapi kondisi ini patut menjadi sumber kekhawatiran serius bagi komunitas internasional,” tegas Dmitry Medvedev.

 Baca Juga: KPK Telisik Sumber Dana Perjalanan Luar Negeri Ridwan Kamil dan Transaksi Valas Miliaran Rupiah

China Enggan Terlibat, Dunia Kehilangan Titik Temu

Situasi semakin rumit setelah Amerika Serikat mendorong China untuk ikut serta dalam perundingan pengendalian senjata nuklir. Namun hingga saat ini, Beijing menunjukkan sikap enggan untuk terlibat.

Tanpa keterlibatan China dan tanpa perjanjian baru antara Rusia dan Amerika Serikat, dunia kini memasuki era tanpa sistem transparansi dan verifikasi yang jelas dalam pengelolaan senjata nuklir.

Sejumlah pakar keamanan internasional menilai kondisi ini berpotensi memicu perlombaan senjata nuklir baru, yang dapat mengancam stabilitas global dan meningkatkan risiko salah perhitungan di tengah ketegangan geopolitik. ***

Editor : Dwi Puspitarini
#nuklir #perjanjian senjata nuklir #rusia #amerika serikat #Dampak berakhirnya New START #donald trump #keamanan global