KALTIMPOST.ID, SAMARINDA - Akses tembusan Jalan Damai menuju Jalan Sultan Alimuddin dilaporkan longsor, Senin (23/2) siang. Material tanah yang runtuh ke badan jalan membuat kendaraan roda dua kesulitan melintas, sementara roda empat untuk sementara tidak bisa lewat.
Dinas PUPR Samarinda memastikan penanganan cepat dilakukan agar jalur itu kembali fungsional dalam satu hingga dua hari ke depan. Informasi longsor tersebut sempat beredar di media sosial dan langsung ditindaklanjuti petugas.
Kepala UPTD Pemeliharaan Jalan dan Jembatan DPUPR Samarinda Hendra Gunawan menyebut pihaknya sudah menerima laporan dan menurunkan personel ke lokasi.
Rencananya pihaknya akan melakukan pembersihan tanah yang runtuh ke jalan. “Targetnya diusahakan satu-dua hari ke depan sudah selesai untuk penanganan cepatnya agar kendaraan bisa melintas,” ujarnya.
Dia menjelaskan satu unit ekskavator akan diterjunkan membersihkan timbunan tanah di titik terdampak. Penanganan tahap awal difokuskan pada membuka akses lalu lintas lebih dulu sambil memetakan potensi longsor susulan.
“Potensi ada mengikuti curah hujan, tapi hanya runtuhan kecil tanah ke jalan. Kami akan petakan titik yang ada potensi longsor dan dibuatkan rencana penanganannya,” jelasnya.
Selain material tanah, kondisi tiang lampu di sekitar lokasi juga menjadi perhatian. Koordinasi lintas perangkat daerah akan dilakukan untuk memastikan fasilitas umum tetap aman. “Untuk tiang lampu nanti akan dikoordinasikan ke Disperkim,” singkatnya.
Ia mengingatkan masyarakat yang melintas, terutama saat curah hujan tinggi, agar lebih berhati-hati. Jalur tersebut berada di kontur perbukitan yang rawan pergerakan tanah ketika intensitas hujan meningkat. “Untuk masyarakat yang melintas, terutama pada curah hujan yang tinggi, harap berhati-hati,” pesannya.
DPUPR menegaskan langkah cepat ini bersifat sementara guna membuka kembali akses warga. “Evaluasi teknis lanjutan akan disusun setelah pemetaan selesai, termasuk kemungkinan penguatan tebing agar kejadian serupa tidak berulang di kemudian hari,” pungkasnya. (*)
Editor : Nugroho Pandu Cahyo