Utama Samarinda Balikpapan Kaltim IKN Nasional Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan Kesehatan

Eskalasi di Iran, Jerman dan Belgia Pilih Absen dari Koalisi Militer

Ari Arief • Kamis, 5 Maret 2026 | 08:55 WIB

SERANGAN: Kepulan asap akibat serangan rudal koalisi AS-Israel ke Iran, akhir Februari lalu.
SERANGAN: Kepulan asap akibat serangan rudal koalisi AS-Israel ke Iran, akhir Februari lalu.

KALTIMPOST.ID,BERLIN-Sikap tegas diambil dua kekuatan Eropa, Jerman dan Belgia, terkait memanasnya tensi militer di Timur Tengah. Kedua negara tersebut secara resmi menyatakan tidak akan ikut campur dalam operasi serangan militer yang dilancarkan Amerika Serikat (AS) dan Israel terhadap Iran.

Menteri Pertahanan Jerman, Boris Pistorius, menegaskan posisi Berlin di hadapan parlemen pada Rabu (4/3). Ia memastikan militer Jerman (Bundeswehr) tidak akan mengambil bagian dalam konfrontasi bersenjata tersebut.

"Jerman bukan pihak dalam perang ini. Angkatan Bersenjata kami tidak akan berpartisipasi," tegas Pistorius sebagaimana dikutip dari TRT, Kamis (5/3/2026).

Baca Juga: Nasib Pasukan RI di Gaza Terancam, Pengamat: Indonesia Harus Berani di BoP

Meski memahami bahwa serangan AS-Israel menyasar rezim Teheran yang dianggap destabilis, Pistorius memperingatkan risiko jangka panjang jika serangan militer dilakukan tanpa strategi keluar (exit strategy) yang jelas. "Sejarah mengajarkan bahwa memulai perang jauh lebih mudah daripada mengakhirinya," imbuhnya.

Fokus pada Jalur Diplomasi

Sikap senada datang dari Brussel. Menteri Pertahanan Belgia, Theo Francken, dengan lugas menolak memberikan dukungan bagi aksi ofensif terhadap Iran. Menurutnya, ada batasan tegas antara bantuan defensif bagi mitra regional dengan keterlibatan dalam serangan awal yang berisiko melanggar hukum internasional.

"Kami tidak akan melakukan itu (bergabung dalam serangan)," kata Francken di depan parlemen Belgia.

Baca Juga: Prabowo Beri Sinyal RI Keluar dari BoP Imbas Eskalasi Serangan Israel-AS ke Iran

Meski menolak menyerang, Belgia tetap membuka peluang untuk memberikan bantuan pertahanan jika ada permintaan resmi dari negara tetangga Iran, seperti Yordania atau Uni Emirat Arab, sesuai koridor hukum internasional. Belgia juga terikat komitmen Uni Eropa untuk melindungi Siprus jika situasi memburuk.

Dilema Pangkalan Inggris

Ketegangan ini semakin kompleks setelah Perdana Menteri Inggris, Keir Starmer, memberikan lampu hijau bagi AS untuk menggunakan pangkalan militer berdaulat mereka di Siprus (Akrotiri dan Dhekelia). Fasilitas tersebut digunakan untuk menghancurkan situs rudal dan logistik Iran.

Keputusan Jerman dan Belgia ini menjadi sinyal kuat adanya keretakan pandangan di internal Uni Eropa. Di saat sekutu dekat seperti Inggris memberikan dukungan logistik bagi AS, Berlin dan Brussel justru memilih menekan rem dan mendorong jalur diplomasi guna mencegah kawasan tersebut tenggelam dalam konflik yang lebih luas.(*)

Editor : Hernawati
#diplomasi #belgia #Siprus #jerman