KALTIMPOST.ID,JAKARTA-Sejarah seolah berulang, namun dengan nada yang jauh berbeda. Jika pada Perang Teluk 1991 George H.W. Bush berhasil menghimpun koalisi global yang solid, dan George W. Bush pada 2003 masih mampu menyeret sekutu setianya ke Irak, potret kepemimpinan Donald Trump saat ini justru menunjukkan fenomena sebaliknya: isolasi.
Keterlibatan militer Amerika Serikat (AS) bersama Israel dalam menggempur Iran baru-baru ini bukan hanya memicu eskalasi di Timur Tengah, tetapi juga menandai titik nadir hubungan Washington dengan para sekutu tradisionalnya di Eropa. Kematian Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei, dalam serangan tersebut menjadi sumbu ledak yang melampaui batas-batas hukum internasional.
Dominasi Tanpa Legitimasi
Baca Juga: Intelijen AS Endus Campur Tangan Rusia, Moskow Diduga Pasok Data Penargetan ke Iran
Analis dari German Marshall Fund, Kristina Kausch, menyoroti adanya pergeseran paradigma di Gedung Putih. Di bawah doktrin "America First", Trump dinilai tidak lagi merasa perlu mencari legitimasi internasional sebelum melancarkan aksi militer.
"Langkah Washington mengirim sinyal bahwa AS merasa berada di atas hukum internasional," ujar Kausch, sebagaimana dikutip dari AFP.
Sentimen negatif Eropa terhadap Trump memang sudah memanas jauh sebelum rudal jatuh di Teheran. Isu lama seperti ambisi Trump mencaplok Greenland dari Denmark hingga penarikan diri AS dari berbagai lembaga multilateral telah mengikis kepercayaan Benua Biru. Bagi Eropa, AS saat ini tidak lagi bertindak sebagai "polisi dunia" yang melindungi, melainkan kekuatan yang bergerak tanpa kendali.
Baca Juga: Gila Obok-obok Negara Orang! Trump Sebut Kuba Target Berikutnya Setelah Iran
Sekutu yang "Mogok"
Retaknya kesolidan Barat terlihat nyata dari sikap Inggris dan Spanyol. Perdana Menteri Inggris, Keir Starmer, kini memberlakukan aturan ketat: pangkalan udara Inggris hanya boleh digunakan pesawat AS untuk misi pertahanan, bukan ofensif.
Langkah lebih berani diambil PM Spanyol, Pedro Sanchez, yang secara tegas menutup akses pangkalan bagi pasukan AS dengan pernyataan singkat namun tajam: "Ini bukan perang kami."
Ketegasan ini dibalas Trump dengan ancaman pemutusan hubungan dagang dan kecaman terbuka. Namun, sikap defensif para sekutu ini menunjukkan bahwa kekuatan lunak (soft power) Amerika sedang berada di ambang keruntuhan.
Baca Juga: Rusia Diduga Kirim Data Satelit ke Iran, Putin Hubungi Presiden Iran di Tengah Konflik Timur Tengah
Di sisi lain, mantan pejabat keamanan AS, Nadia Schadlow, menilai konflik ini mencerminkan kegagalan lembaga seperti PBB dalam mencegah perang ketika kepentingan nasional sebuah negara adidaya sudah berbicara.
Siapa yang Diuntungkan?
Meski mendapat dukungan dari "lingkaran kecil" seperti Australia, Argentina, dan Paraguay, AS tetap menghadapi kritik dari Kanada dan Prancis. PM Prancis, Emmanuel Macron, bahkan terang-terangan menyebut serangan tersebut melanggar norma internasional.
Namun, di balik hiruk-pikuk peluru di Timur Tengah, Beijing mungkin menjadi pihak yang paling tenang mengamati. Jacob Stokes dari Center for a New American Security memperingatkan bahwa keterlibatan panjang AS di Iran adalah "kado" bagi China.
Baca Juga: Intelijen AS Endus Campur Tangan Rusia, Moskow Diduga Pasok Data Penargetan ke Iran
"Fokus militer dan stok persenjataan AS yang terkuras di Timur Tengah otomatis melemahkan kesiagaan mereka di Taiwan," jelas Stokes. Beijing kini punya kesempatan emas untuk mempelajari taktik perang modern Amerika sekaligus memperkuat pengaruh strategisnya saat Washington kembali terjebak dalam "perang tanpa akhir."(*)
Editor : Hernawati