KALTIMPOST.ID,TEL AVIV-Eskalasi militer antara Israel dan Iran memasuki babak baru yang mencekam.
Sebuah laporan intelijen yang diduga bersumber dari Rusia mengungkap data mengejutkan mengenai besarnya kerugian yang dialami Pasukan Pertahanan Israel (IDF).
Angka yang bocor tersebut jauh melampaui rilis resmi yang dikeluarkan pemerintah Israel di Tel Aviv.
Berdasarkan penilaian intelijen Rusia, dalam kurun waktu 72 jam pertama operasi, Israel disinyalir kehilangan lebih dari 1.200 personel dari unsur militer dan intelijen.
Data tersebut merinci kematian enam jenderal, sebuah kehilangan besar dalam sejarah militer modern yang menandakan adanya penetrasi mendalam terhadap rantai komando IDF.
Baca Juga: Akhir Pelarian Jimmy Lie, Buronan Kakap Kasus Korupsi PTSL Diringkus di Malaysia
Selain perwira tinggi, kebocoran data tersebut mencatat gugurnya 198 Perwira Angkatan Udara.
Kehilangan yang berpotensi melemahkan tulang punggung kekuatan udara Israel.
Kemudian, 32 Agen Mossad dan 78 personel Shin Bet. Pukulan telak bagi efektivitas operasi rahasia Israel di kawasan.
Baca Juga: Benjamin Netanyahu Hilang dari Publik 3 Hari, Isu Tewas Akibat Serangan Rudal Iran Mencuat
Selanjutnya, dalam laporan yang sama, 11 ilmuwan nklir juga tewas.
Hal ini menggambarkan adanya indikasi perluasan target ke aset strategis non-militer.
Prajurit 462 tentara aktif dan 423 prajurit cadangan juga dilaporkan tewas.
Hingga saat ini, pihak Israel belum memberikan konfirmasi maupun bantahan resmi terkait validitas angka-angka yang dirilis sumber Rusia tersebut.
Peran Satelit dan Dukungan Intelijen
Munculnya data ini memperkuat laporan bahwa Rusia memberikan dukungan teknis kepada Iran.
Baca Juga: Kisah Tsabitah, Mahasiswi Asal Penajam PPU di Garis Depan Kemanusiaan Yordania-Palestina
Penggunaan data satelit Rusia diduga membantu meningkatkan presisi serangan balasan Teheran, yang tidak hanya menyasar posisi militer Israel, tetapi juga aset-aset Amerika Serikat di kawasan Teluk, termasuk laporan hancurnya stasiun CIA di Riyadh.
Baca Juga: Tel Aviv Porak-poranda Diserang Rudal Iran, Netanyahu Netanyahu Dilaporkan Menghilang
Menanggapi kabar tersebut, Presiden AS Donald Trump cenderung meremehkan. Ia menyatakan bahwa informasi itu tidak akan banyak membantu Iran jika melihat besarnya tekanan dan kerugian yang telah dialami Teheran sebelumnya. Senada, Menhan AS Pete Hegseth menyatakan pihaknya tidak merasa khawatir atas dugaan kebocoran informasi tersebut.
Tragedi Kemanusiaan: Ribuan Sipil Gugur
Di sisi lain, intensitas serangan udara gabungan Israel dan AS ke wilayah Iran memicu krisis kemanusiaan hebat. Laporan Al Jazeera per Minggu (8/3/2026) mencatat lebih dari 1.300 warga sipil Iran tewas, dengan 30 persen di antaranya adalah anak-anak.
Data UNICEF menyebutkan infrastruktur publik di Teheran luntur; setidaknya 20 sekolah dan 10 rumah sakit hancur total. Bulan Sabit Merah Iran bahkan mencatat lebih dari 6.000 titik permukiman warga menjadi sasaran bombardir.
Perang Terbuka di Berbagai Front
Baca Juga: Iran Tolak Negosiasi Nuklir dengan AS, Abbas Araghchi Ungkap Dua Kali Dikhianati Washington
Konflik ini telah menjadi ajang saling balas antar-petinggi militer. Sebelumnya, Israel mengklaim berhasil melumpuhkan sejumlah tokoh kunci IRGC (Garda Revolusi Iran). Namun, Iran membalas dengan operasi presisi yang menewaskan Komandan Angkatan Laut Israel, Aluf David Salami.
Di wilayah Israel, korban sipil juga terus berjatuhan akibat hujan roket dari berbagai front, termasuk serangan Hizbullah dari perbatasan Lebanon. Di wilayah Tel Aviv saja, akumulasi korban tewas di beberapa distrik seperti Bat Yam, Petah Tikva, hingga Bnei Brak dilaporkan telah menembus angka 432 jiwa.
Jika data intelijen Rusia ini terverifikasi benar, maka periode ini akan tercatat sebagai salah satu palagan paling berdarah dan merugikan bagi militer Israel dalam sejarah konflik Timur Tengah. (*)
Editor : Dwi Puspitarini