KALTIMPOST.ID,TEHERAN-Di tengah suasana Idulfitri 1447 Hijriah, Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, menyampaikan pesan khusus kepada tiga negara mayoritas Muslim di Asia Tenggara, termasuk Indonesia. Melalui unggahan di platform X pada Minggu (22/3), Araghchi memberikan ucapan selamat sekaligus apresiasi atas dukungan moral yang diberikan negara-negara tersebut kepada bangsanya.
"Selamat Hari Raya Idulfitri," tulis Araghchi. Ia secara khusus berterima kasih kepada pemerintah dan masyarakat di Indonesia, Malaysia, serta Brunei Darussalam yang dianggap sebagai pencinta keadilan. Menurutnya, solidaritas yang ditunjukkan negara-negara tersebut merupakan bentuk penolakan terhadap agresi militer Amerika Serikat dan Israel yang melanda Iran sepanjang bulan Ramadan.
Hingga 22 Maret 2026, tercatat serangan militer terhadap wilayah Iran telah memasuki hari ke-22.
Baca Juga: Iran Jawab Gertakan Trump, Selat Hormuz Terbuka untuk Semua, Kecuali Musuh!
Tolak Gencatan Senjata Parsial
Terkait upaya mengakhiri konflik, Araghchi menegaskan sikap tegas Teheran. Mengutip laporan CGTN dari wawancara dengan Kyodo News pada Jumat (20/3), ia menyatakan bahwa Iran tidak tertarik pada solusi jangka pendek atau gencatan senjata sementara.
Iran mendorong adanya kesepakatan yang "menyeluruh, komprehensif, dan berkelanjutan." Araghchi mengutuk serangan dari pihak Amerika Serikat dan Israel sebagai aksi agresi ilegal yang tidak berdasar (unprovoked). Ia pun mendesak komunitas internasional untuk tidak tinggal diam dan segera mengambil sikap atas eskalasi tersebut.
Syarat Penghentian Konflik
Baca Juga: Panduan Mudik Senyap, Intip Daftar Lengkap Titik Pengisian Daya Mobil Listrik (SPKLU) se-Kalimantan
Meski mengakui adanya beberapa negara yang mencoba menjadi mediator, Iran tetap pada pendiriannya. Araghchi menekankan bahwa penyelesaian konflik tidak hanya soal menghentikan tembakan, tetapi harus mencakup jaminan keamanan yaitu Kepastian agar agresi serupa tidak terulang kembali di masa depan. Tanggung jawab atas segala kerusakan material dan kerugian yang timbul selama peperangan.
Lebih lanjut, ia menyayangkan sikap Washington yang dinilai belum menunjukkan keseriusan diplomasi untuk mencapai kesepakatan damai yang tulus, meski jalur komunikasi internasional masih diupayakan.(*)
Editor : Hernawati