KALTIMPOST.ID-Pemerintahan Presiden Donald Trump dilaporkan telah mengirimkan proposal yang berisi 15 penawaran kepada Iran guna mengakhiri konflik yang terus memanas di kawasan Timur Tengah.
Menurut sejumlah pejabat yang mengetahui proses diplomasi seperti dilansir NYTimes, rencana itu dikirim melalui Pakistan sebagai perantara.
Langkah ini menunjukkan keseriusan Amerika Serikat (AS) untuk mencari jalan keluar dari perang yang telah berlangsung selama empat pekan dan berdampak pada ekonomi global.
Baca Juga: Arab Saudi Jamin Keamanan Haji 2026, Meski Perang Iran vs AS-Israel Masih Berlangsung
Meski demikian, belum jelas apakah proposal tersebut telah dibahas secara luas di internal Iran atau akan diterima sebagai dasar negosiasi. Sikap Israel, yang terlibat dalam serangan bersama AS terhadap Iran, juga belum diketahui merespons proposal tersebut.
Rencana tersebut disebut mencakup isu krusial seperti program nuklir dan rudal balistik Iran. Sejak serangan dimulai pada 28 Februari, AS dan Israel menargetkan fasilitas produksi, peluncur, serta sistem rudal Iran, termasuk infrastruktur nuklirnya.
Namun, Iran tetap melancarkan serangan balasan ke wilayah Israel dan negara-negara Arab di sekitarnya. Negara itu juga dilaporkan masih memiliki sekitar 440 kilogram uranium yang telah diperkaya tinggi.
Selain itu, proposal juga menyinggung jalur pelayaran strategis, khususnya Selat Hormuz. Sejak perang pecah, Iran disebut membatasi pergerakan kapal-kapal Barat di jalur tersebut, yang berdampak pada pasokan minyak dan gas dunia serta memicu lonjakan harga energi.
Baca Juga: Fakta Baru Kecelakaan Pesawat AIr Canada Terungkap: 20 Detik Krusial Jadi Bencana
Gedung Putih mengonfirmasi bahwa jalur diplomasi tengah dijajaki. Namun di saat yang sama, operasi militer masih terus berjalan untuk mencapai target strategis yang telah ditetapkan.
Peran penting dalam komunikasi ini dimainkan oleh Panglima Angkatan Darat Pakistan, Syed Asim Munir, yang disebut menjadi penghubung antara Washington dan Teheran. Ia juga disebut memiliki kedekatan dengan elite militer Iran, termasuk Garda Revolusi.
Sementara itu, Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif menyatakan kesiapan negaranya untuk menjadi tuan rumah perundingan damai antara AS dan Iran.
Baca Juga: Negosiasi dengan AS, Iran Disebut Ingin Pengakuan Resmi Kendali di Selat Hormuz
Di sisi lain, kondisi internal Iran disebut masih belum stabil. Setelah serangan awal perang yang menewaskan pemimpin tertinggi Ayatollah Ali Khamenei, belum jelas siapa yang kini memegang kendali penuh atas keputusan strategis negara tersebut.
Meski jalur diplomasi mulai terbuka, para pejabat Israel memperkirakan konflik masih akan berlangsung dalam beberapa pekan ke depan. Namun, langkah AS mengajukan proposal damai ini dinilai sebagai sinyal kuat adanya peluang deeskalasi di kawasan.(*)
Editor : Thomas Priyandoko