KALTIMPOST.ID,JAKARTA-Ketegangan di Timur Tengah kini memasuki babak baru yang lebih mengkhawatirkan. Pakar Hubungan Internasional, Teuku Rezasyah, memandang konfrontasi antara Iran melawan aliansi Israel dan Amerika Serikat (AS) telah bergeser sepenuhnya menjadi perang terbuka.
Menurut Rezasyah, pola serangan yang terjadi saat ini bukan lagi sekadar sabotase terselubung atau "perang bayangan", melainkan kontak fisik langsung yang frontal. Salah satu pemicu utama kemarahan Teheran adalah insiden di lepas pantai Sri Lanka, di mana fregat IRIS Dena milik Iran dilaporkan tenggelam oleh kekuatan laut AS.
"Tragedi yang menewaskan 87 pelaut tersebut merupakan pelanggaran hukum internasional yang sangat fatal. Bagi Iran, ini adalah kejahatan yang tidak bisa ditoleransi," ungkap Rezasyah, Rabu (25/3).
Baca Juga: Akses Masjidilaqsa Ditutup, JDF Asia Pasifik Desak Dunia Beri Sanksi Tegas ke Israel
Rezasyah menganalisis bahwa bagi Iran, konflik ini telah bertransformasi menjadi perang eksistensial. Artinya, Teheran tidak lagi melihat ini sebagai perebutan pengaruh geopolitik semata, melainkan upaya mempertahankan identitas bangsa dan peradaban yang telah mengakar selama 4.000 tahun.
Sikap defensif yang keras ini dianggap wajar sebagai bentuk menjaga harga diri negara. Hal inilah yang memicu serangkaian serangan balasan ke berbagai titik strategis di Israel maupun basis militer Amerika di kawasan tersebut.
Posisi Rusia dan China
Di tengah isu keterlibatan kekuatan besar lainnya, Rezasyah menilai hingga saat ini belum ditemukan bukti autentik mengenai kehadiran militer langsung dari Rusia maupun China di pihak Iran.
Baca Juga: Kondisi Aktivis KontraS Membaik, Empat Oknum TNI Masih Diperiksa Intensif
"Sejauh ini tidak ada indikasi penempatan pasukan atau penasihat militer dari kedua negara tersebut di lapangan," jelasnya. Meski demikian, ia tidak menampik bahwa sokongan teknis dan kerja sama yang terjalin sebelum konflik memanas secara tidak langsung telah memperkuat kesiapan militer Iran dalam menghadapi eskalasi saat ini.(*)
Editor : Thomas Priyandoko