Pemerintah pusat langsung merespons cepat. Perdana Menteri Anthony Albanese kembali menjadwalkan rapat darurat bersama para pemimpin negara bagian dan teritori guna memperkuat koordinasi nasional menghadapi situasi ini.
Tekanan krisis energi dipicu gejolak global. Ketegangan di Timur Tengah, terutama setelah Iran memblokade Selat Hormuz, berdampak besar pada distribusi minyak dunia. Jalur tersebut selama ini dilalui sekitar 20 persen pasokan minyak global.
Kondisi ini mendorong lonjakan harga energi dan mulai mengganggu berbagai sektor. Dampaknya bahkan berpotensi merembet ke kenaikan harga barang dan tekanan inflasi.
Di lapangan, kekosongan BBM terjadi di sejumlah wilayah seperti Victoria, Queensland, dan New South Wales. Rinciannya, puluhan hingga ratusan SPBU di tiap wilayah dilaporkan kehabisan setidaknya satu jenis BBM.
Meski demikian, pemerintah menegaskan situasi ini lebih dipicu lonjakan permintaan masyarakat, bukan karena pasokan sepenuhnya terhenti. Warga pun diminta tidak melakukan panic buying yang justru memperparah kondisi.
Menteri Keuangan Jim Chalmers menyatakan proyeksi ekonomi sebelumnya kini sudah tidak relevan. Pemerintah tengah menyusun ulang skenario menghadapi kemungkinan tekanan inflasi dan harga minyak yang lebih tinggi.
Untuk menjaga pasokan, pemerintah telah mengalihkan sejumlah kapal tanker yang sebelumnya batal menuju Australia, sekaligus mengamankan tambahan pengiriman baru.
Menteri Energi Chris Bowen memastikan cadangan darurat juga telah dikeluarkan, setara beberapa hari kebutuhan nasional.
Meski stok darurat digunakan, pembatasan distribusi BBM belum akan diterapkan. Pemerintah masih mengedepankan langkah penghematan konsumsi energi oleh masyarakat sebagai upaya awal.
Selain itu, pemerintah menunjuk koordinator khusus ketahanan pasokan BBM untuk memperkuat distribusi di daerah. Kerja sama internasional juga ditingkatkan, termasuk dengan Singapura, guna memastikan kelancaran suplai energi.
Krisis ini turut memicu kekhawatiran terhadap sektor lain seperti pupuk dan bahan kimia, seiring tren sejumlah negara yang mulai memprioritaskan kebutuhan energi domestik dibanding ekspor.
Editor : Uways Alqadrie