KALTIMPOST.ID - Fabio Quartararo melontarkan pernyataan paling mengkhawatirkan terkait performa Yamaha musim ini. Ia menilai timnya belum menemukan solusi atas berbagai masalah yang terus muncul sejak awal musim.
Dalam tiga seri pembuka MotoGP 2026, Yamaha memang kesulitan tampil kompetitif. Motor V4 anyar yang diandalkan belum mampu menunjukkan performa optimal di lintasan.
Masalah itu kembali terlihat pada balapan di Circuit of the Americas (COTA), Senin (30/3) dini hari Wita. Quartararo hanya start dari posisi ke-16, dengan selisih hampir enam persepuluh detik dari catatan terbaik di sesi Q1.
Baca Juga: Bursa Ketua KONI Kaltim Memanas, Rusdiansyah Aras Soroti Arah Baru Olahraga
Rekan setimnya, Toprak Razgatlioglu, finis di posisi ke-15. Meski berhasil meraih poin perdana di MotoGP, ia masih tertinggal 25,549 detik dari pemenang balapan, Marco Bezzecchi.
Sementara itu, Quartararo harus puas mengakhiri balapan di posisi ke-17. Juara dunia 2021 tersebut kini menjadi pembalap Yamaha terbaik di klasemen sementara dengan koleksi enam poin, menempati peringkat ke-17. Secara konstruktor, Yamaha baru mengumpulkan sembilan poin.
Kepada Canal+, Quartararo mengaku frustrasi dengan kondisi timnya saat ini.
“Jujur, saya rasa tidak ada yang bisa dipetik dari balapan seperti ini. Kami mengalami hari Minggu yang sangat buruk; motornya banyak berubah,” keluhnya.
Ia juga mengungkapkan telah mencoba berbagai eksperimen sepanjang balapan. Namun, hasilnya tetap jauh dari harapan.
“Saya mencoba beberapa hal berbeda, bereksperimen selama balapan karena kami sangat tertinggal. Tapi jelas itu tidak berhasil. Saya sudah memperkirakan ini akan menjadi musim yang sangat panjang,” ujarnya.
Baca Juga: VR46 Rilis Livery Pop Art di New York, Aksi Diggia Bikin MotoGP AS Makin Panas
Keluhan ini kembali memicu spekulasi soal masa depan Quartararo. Pembalap asal Prancis itu dikabarkan berpeluang bergabung dengan Honda pada musim 2027. Meski begitu, belum ada pernyataan resmi, dan ia memilih tidak menanggapi isu tersebut.
Quartararo berharap jeda satu bulan ke depan bisa dimanfaatkan tim untuk berbenah dan keluar dari tekanan.
“Kita punya waktu istirahat satu bulan, jadi itu bagus untuk benar-benar melepaskan diri dari tekanan,” tutupnya. (*)
Editor : Ery Supriyadi