DUNIA musik, yang selama ini dipenuhi oleh kreativitas dan ekspresi emosional manusia, kini menghadapi ancaman besar dari teknologi kecerdasan buatan (AI). Inovasi dalam AI yang mampu menciptakan musik secara otomatis mengundang pertanyaan serius mengenai masa depan industri musik dan peran para musisi di dalamnya.
AI di dunia musik memang menawarkan banyak keuntungan. Musik bisa diproduksi dengan lebih cepat dan efisien, memungkinkan lebih banyak inovasi dan variasi. Namun, ada sisi gelap dari kemajuan ini. Kemampuan AI untuk menghasilkan musik berkualitas tinggi tanpa campur tangan manusia bisa mengancam mata pencaharian ribuan musisi. Musik yang dihasilkan oleh AI mungkin akan lebih murah dan lebih mudah diakses, tetapi apakah kita siap mengorbankan unsur manusiawi dalam musik yang membuatnya begitu memikat?
Salah satu contoh nyata adalah teknologi Suno.AI, yang mampu menciptakan lagu dari parameter-parameter sederhana. Hasilnya tidak kalah mengesankan dengan karya manusia. Beberapa lagu yang telah dihasilkan oleh Suno.AI dapat dilihat di [TikTok](https://vt.tiktok.com/ZSYnNL3Qc/). Meski demikian, kehebatan teknologi ini juga membawa kekhawatiran besar. Jika AI bisa membuat musik yang bagus dengan cepat dan murah, apakah nasib para musisi yang telah mengabdikan hidupnya untuk seni ini?
Saat ini, kita menyaksikan bagaimana teknologi perlahan mengikis berbagai sektor pekerjaan. Di bidang kreatif, termasuk musik, ancaman ini semakin nyata. AI bisa mengambil alih peran komposer, penulis lirik, bahkan produser. Bayangkan, dunia di mana semua musik yang kita dengar diciptakan oleh mesin. Dunia di mana sentuhan manusia, dengan segala emosinya, tidak lagi menjadi bagian dari karya seni yang kita nikmati.
Perlu diakui bahwa teknologi AI menawarkan potensi besar untuk kemajuan di berbagai bidang, termasuk musik. Namun, penting untuk mempertimbangkan dampaknya pada kehidupan dan pekerjaan manusia. Regulasi yang ketat dan kerjasama antara pemerintah, industri teknologi, dan para pelaku industri musik sangat penting untuk memastikan AI tidak sepenuhnya mengambil alih peran manusia. AI seharusnya berfungsi sebagai alat bantu yang memperkaya proses kreatif, bukan sebagai pengganti kreator manusia. Musisi harus tetap berada di pusat kreasi seni musik, sementara AI mendukung mereka dengan cara yang konstruktif dan etis.
Akhirnya, mari kita renungkan apa arti musik bagi kita. Musik bukan hanya kumpulan nada dan lirik. Musik adalah ekspresi jiwa, medium untuk menyampaikan perasaan dan cerita yang hanya bisa disampaikan oleh manusia. Jika kita membiarkan AI menguasai sepenuhnya, kita mungkin akan kehilangan esensi dari apa yang membuat musik begitu spesial. (mra/ms)
*) Ir Riovan Styx Roring ST MKom adalah seorang dosen yang telah diakui atas kontribusinya dalam bidang teknologi dan inovasi. Terpilih sebagai Pemuda Pelopor Kaltim di bidang Inovasi Teknologi dan 5 besar nasional pada tahun 2020, serta menerima penghargaan Lecturer of the Year pada tahun 2021 oleh Asia Education Conclaive di Thailand. Ia telah berkontribusi besar dalam mengembangkan teknologi dengan cara yang etis dan bertanggung jawab bekerjasama dengan Kemdikbud Korsel, UNESCO, dan FAO dalam beberapa program pendidikan. (*)
Editor : Ismet Rifani