KALTIMPOST.ID, BALIKPAPAN - Pada Juli 2024, data terbaru dari Badan Pusat Statistik (BPS) Balikpapan mengungkapkan terjadi kenaikan harga berbagai komoditas yang berimbas pada inflasi tahunan (year-on-year)/y-on-y sebesar 2,28 persen. Indeks Harga Konsumen (IHK) pada Juli 2024 tercatat 107,47 poin, meningkat dari 105,07 pada periode yang sama tahun lalu.
Kepala BPS Balikpapan Marinda Dama Prianto menjelaskan, bahwa adanya pergeseran harga pada berbagai komoditas, yang berkontribusi pada kenaikan indeks harga konsumen.
"Dari segi pergerakan harga bulanan (month-to-month), inflasi tercatat sebesar 0,09 persen, sementara inflasi tahun-ke-date (y-to-d) mencapai 1,41 persen. Kenaikan harga ini terutama dipengaruhi oleh kenaikan pada beberapa kelompok pengeluaran utama," ungkap Marinda.
Berdasarkan kategorinya, kelompok makanan, minuman, dan tembakau mencatat kenaikan signifikan sebesar 5,49 persen. Sementara itu, kelompok pakaian dan alas kaki mengalami kenaikan 1,20 persen, dan kelompok perumahan, air, listrik, serta bahan bakar rumah tangga naik sebesar 0,33 persen.
"Kelompok pengeluaran seperti makanan dan minuman menunjukkan lonjakan yang cukup besar, yang berkontribusi signifikan terhadap inflasi tahun ini. Ini termasuk kenaikan harga beras, sayuran, dan protein hewani yang sangat mempengaruhi daya beli masyarakat," lanjutnya.
Dalam hal penurunan harga, kelompok perlengkapan, peralatan, dan pemeliharaan rutin rumah tangga mengalami deflasi sebesar 1,19 persen. Komoditas yang memberikan andil signifikan terhadap deflasi tahun ke tahun termasuk minyak goreng, sabun mandi cair, dan tomat. Di sisi lain, komoditas yang memberikan kontribusi terbesar terhadap inflasi tahun ke tahun meliputi beras, emas perhiasan, dan cabai rawit.
"Komoditas seperti beras dan emas perhiasan menunjukkan kenaikan harga yang cukup tajam, dan ini menjadi perhatian utama karena mempengaruhi biaya hidup masyarakat sehari-hari," sebut Marinda.
Selain itu, pada skala bulanan, deflasi terbesar terjadi pada angkutan udara, tomat, bawang merah, dan bawang putih. Komoditas-komoditas ini mengalami penurunan harga yang relatif signifikan dibandingkan bulan sebelumnya. Sebaliknya, inflasi bulanan terbesar tercatat pada komoditas seperti kangkung, ikan layang, dan sigaret kretek mesin (SKM).
Dari sisi kelompok pengeluaran, kontribusi inflasi tahun ke tahun terbesar berasal dari kelompok makanan, minuman, dan tembakau yang berkontribusi sebesar 1,67 persen, diikuti oleh kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya yang memberikan kontribusi sebesar 0,34 persen. Sementara itu, kelompok perlengkapan rumah tangga justru memberikan andil deflasi sebesar 0,06 persen.
Secara keseluruhan, BPS Balikpapan menyimpulkan bahwa meskipun terdapat fluktuasi dalam harga berbagai komoditas, pengendalian inflasi tetap menjadi prioritas utama. Untuk menghadapi tantangan inflasi ini, koordinasi antara pemerintah, pelaku pasar, dan masyarakat sangat penting. Kebijakan yang tepat sasaran akan membantu menstabilkan harga dan menjaga kesejahteraan masyarakat.
"Pengawasan yang ketat terhadap harga dan kebijakan yang efektif sangat diperlukan, untuk menstabilkan kondisi ekonomi dan melindungi daya beli masyarakat," tambah Marinda. (lil)
Editor : Hernawati