KALTIMPOST.ID, BALIKPAPAN – Sejumlah persiapan mitigasi telah dilakukan BMKG untuk menghadapi megathrust yang tidak bisa diketahui kapan kembali muncul.
Seperti diketahui, megathrust telah lama tidak mengeluarkan energi sekitar 200-300 tahun terakhir.
Megathrust kembali menjadi perbincangan setelah adanya publikasi yang mengklaim memprediksi terjadinya pertemuan antar lempeng yang bisa memicu gempa atau tsunami dahsyat tersebut.
Dalam hal mitigasi, BMKG telah memasang peralatan warning receiver system (WRS). Alat ini dapat menjadi peringatan gempa bumi agar bisa segera diketahui dan informasi disebarkan secara luas.
“Kami sudah pasang di pantai Kaltim seperti Tarakan, Berau, termasuk Balikpapan juga ada alatnya,” kata Kepala Stasiun Geofisika Balikpapan Rasmid.
Menurutnya, setiap kabupaten/kota telah terpasang alat tersebut dibantu oleh BPBD yang memonitor 24 jam.
Sehingga ketika terjadi gempa atau tsunami langsung muncul informasi dari WRS. “Misalnya mengukur berapa ketinggian tsunami dan berapa lama air tiba sampai ke pantai sini,” tuturnya.
Selain sarana prasarana, BMKG juga melakukan edukasi kepada masyarakat. Termasuk siswa menjadi sasaran edukasi. Pihaknya sudah melakukan sosialisasi dengan membentuk sekolah lapang di Sangkulirang.
Dia menjelaskan, kejadian gempa dan tsunami pada 14 Mei 1921 di Sangkulirang menjadi pelajaran berharga sejarah pulau ini. Gempa kuat di Kalimantan mencapai skala intensitas maksimum mencapai VII MMI.
Baca Juga: WASPADA! Kaltim Berpeluang Terkena Dampak Gempa Megathrust Utara Sulawesi
Kerusakan parah terjadi di Pulau Rending (Teluk Sangkulirang), di mana banyak rumah rusak di Kaliorang dan Sekurau. Lubang bor menyemburkan air, rekahan tanah sepanjang 10 m, lebar 20 centimeter, kedalaman 2 meter, menyemburkan air bercampur pasir dan tanah liat (likuifaksi).
Radius wilayah dilanda gempa mencapai 250 km. Terjadi 10 guncangan berulang gempa susulan. Gempa dipicu Sesar Sangkulirang atau Sangkulirang Fault Zone ini memicu tsunami menimbulkan kerusakan parah di Sekurau.
Menurut saksi mata, air laut menggenangi jalan hingga setinggi 1 meter. “Jadi sekarang kami edukasi lagi apa yang bisa dilakukan sebelum gempa, saat gempa, dan sesudah gempa,” tuturnya.
Begitu pula bagaimana cara menghadapi tsunami yang setidaknya bisa terlihat dari tanda-tanda alam. Jika terlihat air laut yang surut signifikan, maka semua diharuskan menjauh dari pantai.
“Atau kelompok burung secara tiba-tiba migrasi ke darat juga menjadi indikator ada fenomena alam,” bebernya.
Rasmid memberi contoh, Tarakan sudah mendapat sosialisasi dua sampai tiga kali pada tahun lalu.
Sosialisasi berlangsung di kota-kota yang memiliki potensi lebih besar terhadap bencana gempa dan tsunami dibanding daerah lain.
“Sementara Balikpapan relatif lebih silent dibanding Tarakan dan Berau,” sebutnya.
“Tapi lebih berdampak pada gempa-gempa yang berasal dari Sulawesi,” ungkap Rasmid.
Jika terjadi gempa besar di Selat Makassar menimbulkan longsoran di bawah laut hingga membuat kenaikan air laut. Namun potensinya tidak sebesar di Tarakan dan Berau. (*)
Editor : Thomas Dwi Priyandoko