Utama Samarinda Balikpapan Kaltim Nasional Piala Dunia 2026 Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan

Sambut HKN, Diskes Balikpapan Gelar Germas di Sungai Nangka, Fokus Sosialisasi Penyakit Menular dan DBD

ADV • Minggu, 10 November 2024 | 21:10 WIB

 

PEDULI KESEHATAN: Germas yang dipusatkan di RT 5 dan 7 Kelurahan Sungai Nangka, Balikpapan Selatan dirangkai dengan berbagai kegiatan seperti senam bersama, skrining kesehatan penyakit tidak menular.
PEDULI KESEHATAN: Germas yang dipusatkan di RT 5 dan 7 Kelurahan Sungai Nangka, Balikpapan Selatan dirangkai dengan berbagai kegiatan seperti senam bersama, skrining kesehatan penyakit tidak menular.

KALTIMPOST.ID, BALIKPAPAN - Menyambut Hari Kesehatan Nasional (HKN) ke-60, Dinas Kesehatan (Dinkes) Balikpapan menggelar Germas di Kelurahan Sungai Nangka, Balikpapan Selatan, Sabtu (9/11). Mengusung tema Germas Terintegrasi dengan Penyakit Tidak Menular, acara itu dipusatkan di RT 5 dan 7.

Selain pemeriksaan kesehatan dan senam sehat bersama, kegiatan itu juga dirangkai dengan pemaparan edukasi pencegahan penyakit tidak menular serta penyerahan kelambu air secara simbolis kepada masyarakat.

Kadiskes Balikpapan Alwiati menjelaskan, Kelurahan Sungai Nangka dipilih sebagai lokasi germas karena memiliki banyak kasus penyakit menular dan DBD.

"Jadi ini merupakan rangkaian HKN dalam rangka memberikan edukasi kepada masyarakat. Daerah ini dipilih karena angka kasus penyakit tidak menular dan DBD cukup tinggi. Makanya kita juga melakukan pembagian kelambu air untuk pencegahan. Ada total 100 kelambu air yang dibagikan kedua RT tersebut,” jelas Alwi sapaan akrabnya. 

Adapun rangkaian pada kegiatan ini mencakup sosialisasi pencegahan demam berdarah dengue (DBD), skrining kesehatan penyakit tidak menular seperti hipertensi, gula darah, kolesterol dan asam urat, dan skrining tuberkulosis (TBC), senam bersama serta ada bazar buah, sayur dan jamu. "Skrining TBC ini juga dilakukan agar kita bisa mendeteksi penyakit tidak menular, supaya tidak ada penularan," kata Alwi.

Dia menuturkan, saat ini angka kasus TBC di Kota Beriman tercatat 1.825 pasien. Jumlah tersebut sudah dalam tahap pengobatan, sehingga perlu dilakukan pemeriksaan intensif. "Karena penularannya cepat, apalagi jika ada kontak eratnya, maka kita harus memberi edukasi untuk meningkatkan kesadaran masyarakat. Agar tidak ada penularan," tuturnya.

Sementara itu, Ketua Tim Kerja Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Diskes Balikpapan dr I Dewa Gede Dony Lesmana menyampaikan pentingnya skrining melalui tes cepat molekuler yang dilakukan di Puskesmas.

Menurutnya, teknologi ini mempercepat deteksi dini penyakit TBC, sehingga memungkinkan penanganan cepat dan akurat. “Skrining ini memungkinkan kita untuk menemukan kasus secara dini sehingga bisa langsung diberikan terapi. Memang tantangannya cukup tinggi, karena kita mengobati orang yang sehat, bukan pasiennya. Sementara pasiennya minum obat TBC," ujarnya.

Dalam hal ini, pihaknya mengupayakan dapat memenuhi target indikator untuk terapi pencegahan TBC. Pasalnya, jika ada temuan kasus satu penyakit TBC, maka dapat berisiko menularkan 10-20 orang di sekitarnya. "Makanya kita menggencarkan pemberian terapi pencegahan TBC untuk kontak-kontak erat yang ada di sekitar rumah penderita," terangnya.

Selain itu, pemberian terapi juga diberikan kepada individu yang memiliki kontak erat dengan pasien TBC, meski mereka tidak menunjukkan gejala. Diskes Balikpapan juga memiliki rencana jangka panjang untuk memperluas skrining TBC pada 2025 dengan dukungan dari Kementerian Kesehatan yang menargetkan 3.500 orang. 

Program skrining masif ini akan difokuskan pada kelompok risiko tinggi seperti perokok, penderita diabetes dan mereka yang menunjukkan gejala awal TBC. “Di tahun 2025, kita akan melakukan skrining secara masif dengan sasaran 3.500 orang, termasuk perokok dan yang punya riwayat diabetes,” terang Dewa.

Dengan program skrining aktif, edukasi berkelanjutan, dan keterlibatan masyarakat secara langsung, Balikpapan memperlihatkan komitmen kuat dalam menghadapi ancaman penyakit menular seperti TBC dan DBD.

Sementara itu, Ketua RT 05 Yohanis Pabia bersama Budi Saprianto mewakili Ketua RT 07 mengucapkan terima kasih atas kegiatan tersebut. "Kami mewakili warga mengucapkan terima kasih karena RT kami menjadi lokasi khusus germas, ini sebagai upaya menyosialisasikan pentingnya menjaga kesehatan dan kebersihan lingkungan," ucap Yohanis Pabia.

“Untuk di RT 07, tahun 2024 ini kami ada dua kasus DBD. Salah satunya balita yang sudah dalam masa pemulihan, sementara untuk TBC ada satu rumah yang satu keluarga terpapar dan ada kelompok balita yang sudah sembuh dan satu lagi yang dalam empat tahun terakhir masih dalam tahap penanganan khusus. Kami mengucapkan terima kasih kepada diskes, puskesmas serta para kader yang terus memberikan pemantauan kepada masyarakat kami," tambah Budi Saprianto.

Budi menuturkan, kondisi lingkungan yang memang kurang baik membuat masyarakat terpapar penyakit menular. Karena kondisi rumah yang padat, kemudian ada beberapa lorong yang bisa diakses orang lewat, maka berpotensi DBD muncul, terutama ada wilayah yang terjadi penumpukan sampah khususnya sampah pepohonan yang tidak bisa ditarik keluar dan penampungan air yang terbuka.

“Namun kini kita semakin gencar melakukan sosialisasi menjaga kebersihan dengan agenda rutin mingguan," terang Budi. (mra)

Editor : Nugroho Pandu Cahyo
#Dinkes Balikpapan #penyakit menular #germas #HKN #dbd