KALTIMPOST.ID-Inovasi menarik yang berlandaskan lingkungan, kembali diciptakan. Ide yang berasal dari kalangan para guru SMP 21 Balikpapan itu, dibuat dengan rasa kepedulian terhadap lingkungan.
Tim akademisi itu terdiri dari Dimas Saputra, Susi Indayana, dan Anna Widyarti. Mereka berhasil membuat inovasi sabun cuci tangan dengan bahan dasar eucalyptus.
Karya tersebut berawal dari keikutsertaan mereka pada ajang lomba-lomba, seperti Teknologi Tepat Guna (TTG) hingga Kreativitas dan Inovasi (Krenova) Balikpapan.
“Kami ingin membuat produk ramah lingkungan. Namun poinnya tetap bisa berdampak kepada pemberdayaan masyarakat,” kata Dimas.
Alasan pemanfaatan tanaman eucalyptus tersebut, sambungnya, dikarenakan banyak tumbuh di sekitar sekolah.
Mengingat SMP 21 berlokasi di Salok Baru, Kariangau, Balikpapan Barat, dan pohon eucalyptus ini juga tersebar di kawasan permukiman.
Dia melanjutkan, tanaman eucalyptus banyak dan tinggal petik saja di lingkungan sekolah. Dulu, ada juga perusahaan kayu yang menanam eucalyptus dan semakin menyebar.
“Jadi warga sekitar juga dikelilingi pohon tersebut. Sementara kami melihat pemanfaatan pohon eucalyptus belum maksimal. Sejauh ini, Kaltim hanya mengirim pohon ke luar daerah, makanya kami berupaya memanfaatkan sebaik mungkin,” jelasnya lagi.
Dimas menyebut, timnya juga sempat mengecek berbagai jurnal. Faktanya, belum ada yang melakukan pemanfaatan eucalyptus menjadi sabun cuci tangan. Kebanyakan hanya menjadi aroma untuk infuser, obat gosok, dan lain sebagainya.
Kemudian, lanjutnya, tercetuslah ide membuat sabun cuci tangan yang ramah lingkungan bernama Eucanusa.
Alasannya, karena tanaman ini mengandung minyak atsiri dengan beragam manfaat, salah satunya kandungan antibakteri seperti minyak kayu putih.
Soal proses pembuatannya, ia menjelaskan temuan ini tentu melalui proses trial and error, sejak Februari.
Yang juga melibatkan siswa dalam praktik langsungnya. Mereka mencari kombinasi bahan-bahan yang paling pas, hingga akhirnya rampung pada April.
Dia berkata, saat ini karya tersebut dalam proses pengembangan menggunakan prinsip 4M.
“Pertama murah, karena bahan bakunya yang gampang ditemui. Mudah, dari sisi pembuatan. Mutu dari proses pembuatan yang terjaga aman dan ramah lingkungan. Terakhir masif, dari sisi jumlah produksi,” tambahnya.
Pihaknya mengklaim inovasi itu ramah lingkungan karena penggunaan bahan kimia yang minim. Biasanya membutuhkan sembilan bahan dasar kimia untuk pembuatan sabun.
Sedangkan Eucanusa hanya menggunakan satu bahan kimia saja yakni sodium lauryl surfat atau surfaktan. Jadi dapat meminimalisir penggunaan bahan kimia dan meningkatkan budaya sehat.
Begitu juga dari sisi antibakteri, yang mana disebutkannya sudah terdapat dalam kandungan daun eucalyptus.
Selain surfaktan dan eucalyptus, pembuatan sabun cair ini membutuhkan garam, camperlan atau cairan pengental, dan air. Cukup mudah dan bisa diaplikasikan oleh rumah tangga.
Tahap awalnya, lanjut Dimas, dengan membuat essensial oil eucalyptus melalui proses tim.
Pertama siapkan daun eucalyptus yang dicacah kecil sebanyak 100 gram, lalu melalui proses tim bersama minyak kelapa sawit 100 mililiter. Ditunggu hingga mencapai suhu 85 derajat dan proses pendinginan.
“Untuk berhasil menjadi sabun yang terbaik, essential oil dibiarkan hingga 3-4 hari agar dapat aroma eucalyptus. Lalu sampai akhirnya siap dibuat menjadi sabun cair,” tuntasnya. (rd)
OKTAVIA MEGARIA
Editor : Romdani.