BALIKPAPAN - SMP 21 Balikpapan memiliki fasilitas sekolah lengkap dan terbaik. Termasuk dengan dukungan peralatan IT. Ini menjadi nilai lebih bagi sekolah tersebut. Namun hingga kini, tantangan SMP 21 masih sama setiap tahun ajaran baru. Yakni menarik minat calon peserta didik. Jarak tempuh ke sekolah memang menjadi kendala besar.
Sebagai informasi, SMP 21 Balikpapan membuka kuota 64 siswa dalam sistem penerimaan murid baru (SPMB) 2025. Ini setara dua rombongan belajar (rombel).
Sejauh ini, jumlah pendaftar sudah mencapai 39 siswa. Namun terkadang hasil akhir SPMB tidak sesuai rencana. Nantinya terlihat saat proses daftar ulang. “Masalahnya calon peserta kadang belum mengetahui lokasi sekolah ini,” kata Kepala SMP 21 Balikpapan Marsudi. SMP 21 berada di Jalan Salok Baru, Kariangau. Tepat bersebelahan dengan Apical.
Dia bercerita, contoh kasus, ada siswa yang ‘terlempar’ masuk ke SMP 21 Balikpapan. Mereka saat mendaftar tidak mengetahui lokasi sekolah. “Sementara di sistem, terlempar masuk ke SMP 21. Mereka malah bingung karena merasa jauh, tinggal di Kilometer 15 Balikpapan Utara,” imbuhnya.
Saat proses daftar ulang nanti, pihak sekolah baru mengetahui jumlah peserta didik yang benar-benar memilih SMP 21. Selama ini setiap penerimaan siswa baru, jumlah pendaftar ulang hanya memenuhi satu rombel.
“Jadi beberapa angkatan yang sudah ada ini memang hanya ada satu kelas,” tuturnya. Selain masyarakat sekitar, ada pula siswa yang merupakan anak karyawan Kutai Refinery Nusantara (KRN) sebagai lokasi terdekat.
Sedangkan dari perusahaan lain belum ada karena mereka tidak memiliki mes. Karyawan tetap bolak-balik karena tinggal di perkotaan. “Sehingga terkendala akses transportasi yang susah,” imbuhnya. Namun bukan berarti tanpa usaha. Pihaknya sudah melakukan berbagai hal untuk promosi SMP 21 Balikpapan.
Termasuk aksi door-to-door dari satu sekolah ke sekolah lainnya. Serta mengimbau masyarakat lewat spanduk dan media sosial. “Kami mencantumkan prestasi-prestasi yang diraih SMP 21 tidak kalah dengan sekolah lain,” sebutnya. Bahkan untuk perlengkapan sekolah, tahun ini setiap anak sudah mendapatkan Chromebook atau laptop.
“Tapi kembali namanya kepercayaan. Tentu kami tidak ingin memaksa,” imbuhnya. Semua tergantung pada pilihan calon peserta didik.
Editor : Muhammad Ridhuan