Utama Samarinda Balikpapan Kaltim IKN Nasional Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan Kesehatan

Kenapa Jalanan di Balikpapan Banyak Tanjakan? Ini Penjelasannya!

Khoirun Nisa • Jumat, 22 Agustus 2025 | 08:08 WIB
Potret jalan di Balikpapan Utara yang menanjak.
Potret jalan di Balikpapan Utara yang menanjak.

KALTIMPOST.ID, Kalau kamu baru pertama kali datang ke Balikpapan, mungkin kamu akan heran dan bertanya-tanya: kenapa jalanan di kota ini banyak yang menanjak dan berkelok? Rasanya seperti naik-turun bukit hampir di setiap sudut kota.

Mulai dari kawasan Gunung Malang, Jalan MT Haryono, kawasan Taman Sari, hingga arah Balikpapan Selatan—jalanan menanjak seolah jadi "ciri khas" kota ini.

Ternyata, hal ini bukan soal desain jalan semata. Ada alasan geografis dan sejarah alam yang kuat di balik jalanan "gunung" yang menjadi ciri khas Balikpapan.

Karakteristik Alam: Dari Bukit hingga Jenis Tanah

Secara geografis, Kota Balikpapan memang unik. Sekitar 85% wilayahnya didominasi oleh perbukitan, sementara hanya 12% yang merupakan daerah dataran sempit yang berada di sekitar Daerah Aliran Sungai (DAS) dan pesisir pantai.

Dengan kontur yang berbukit-bukit ini, sebagian besar wilayah Balikpapan, tepatnya 51,66%, berada pada ketinggian 20 hingga 100 meter di atas permukaan laut. Sementara itu, sekitar 34,17% berada di ketinggian 10-20 meter dan 13% di ketinggian 0-10 meter di atas permukaan laut.

Kondisi topografi ini juga tercermin dari kemiringan lerengnya. Sebanyak 42,33% wilayah Kota Balikpapan memiliki kemiringan lereng antara 15-40%. Jenis tanahnya pun bervariasi; sebagian besar (tanah merah) bersifat asam dan kurang subur, sedangkan di kawasan dataran di pesisir, umumnya adalah tanah aluvial.

Mengapa Tidak Diratakan Saja?

Pertanyaan umum lainnya adalah, "Kenapa tidak diratakan saja biar jalannya datar?" Jawabannya sederhana: biaya dan risiko lingkungan.

Meratakan bukit dalam skala besar membutuhkan biaya konstruksi yang sangat tinggi, berisiko menyebabkan longsor, serta dapat merusak ekosistem tanah dan hutan di sekitarnya.

Apalagi, sebagian area Balikpapan masih berhutan dan berada di wilayah konservasi alam. Jadi, menyesuaikan jalan dengan kondisi alam lebih masuk akal daripada mengubah kontur secara ekstrem.

Meskipun kadang bikin deg-degan, jalanan menanjak di Balikpapan justru memberikan keunikan tersendiri. Pengemudi dituntut lebih waspada, kendaraan harus dalam kondisi prima, dan bonusnya—kamu bisa menikmati pemandangan laut atau pepohonan dari ketinggian. Beberapa spot bahkan jadi favorit karena pemandangannya luar biasa saat matahari terbit atau senja.

Fun Fact: Nama "Gunung" Sudah Melekat

Tidak heran kalau banyak nama jalan atau kawasan di Balikpapan yang diawali kata "Gunung", seperti Gunung Malang, Gunung Sari, Gunung Bahagia, dan Gunung Empat.

Nama-nama ini bukan tanpa alasan—karena memang secara fisik berada di area yang tinggi dan menanjak. Jadi jangan heran kalau di sini, kata "gunung" merujuk pada nama daerah, bukan untuk didaki apalagi berapi.

Buat kamu yang baru pindah ke Balikpapan atau baru belajar menyetir di sini, beberapa tips ini wajib diingat.

Selalu cek rem sebelum berkendara, gunakan gigi rendah saat menanjak, jaga jarak aman antar kendaraan, dan jangan panik saat berhenti di tanjakan—karena rem tangan adalah penyelamat!

Di balik kenyamanan dan keteraturannya, kota ini punya medan yang unik. Jalan-jalan yang naik turun bukan cuma soal geografi, tapi juga jadi bagian dari karakter kota dan warganya yang tangguh, adaptif, dan siap menghadapi tantangan dari berbagai sudut—termasuk dari tanjakan sekalipun. (*)

Editor : Almasrifah
#jalanan #Gunung Malang #bukit #topografi #balikpapan #Menanjak